BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Jepang
adalah suatu Negara kepulauan dengan pulau-pulau besar dan kecil. Yang
mempunyai sejarah unik diantaranya asal usul bangsa jepang yang begitu menarik
untuk dibicarakan. Orang Jepang termasuk bangsa tertua
di dunia. Manusia
telah hidup di sana sejak sekitar 30000 SM. Jepang klasik terbentuk sekitar
tahun 300 SM. Namun yang lebih dibanggakan orang
Jepang adalah bahwa kerajaannya merupakan satu kesatuan Negara yang berlangsung
secara kontinu dan paling ama diantara bangsa-bangsa di dunia.
B.
Rumusan
Masalah
1. Siapa nenek
moyang bangsa Jepang sesungguhnya?
C. Tujuan
1.
Mengetahui nenek moyang bangsa
Jepang sesungguhnya.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
ASAL
USUL BANGSA JEPANG
Dunia berawal di
Takamanohara, di sama lahir berbagai kami
seperti Kotoamatsukami dan Kaminoyonanayo. Kami yang lahir paling akhir adalah dua
bersaudara Izanagi dan Izanami.
Orang Jepang
termasuk bangsa tertua di dunia. Manusia telah hidup di sana sejak sekitar 30000 SM. Jepang
klasik terbentuk sekitar tahun 300 SM. Namun
yang lebih dibanggakan orang Jepang adalah bahwa kerajaannya merupakan satu
kesatuan Negara yang berlangsung secara kontinu dan paling lama diantara
bangsa-bangsa di dunia.
Pada zaman purba, Jepang dihuni oleh orang Ainu atau Ezo.
Orang Ainu merupakan bangsa unik dan tidak memiliki hubungan dengan suku
manapun. Orang Jepang modern pindah ke kepulauan ini pada zaman prasejarah dari
Korea dan Manchuria di daratan Asia. Mereka mendesak orang Ainu sehingga pindah
ke pulau paling utara, Hokkaido.
Kita melihat
bahwa orang Jepang yang sekarang adalah hasil dari perpaduan berbagai ras yang
berimigerasi ke Jepang, sehinga tidak diketahui siapa yang merupakan
betul-betul ras asli Jepang. Yang paling awal diketahui di Jepang adalah Ainu,
yang mempunyai hubungan dengan ras Kaukasia, dan karena itu mungkin sekali
bukan penduduk asli. Kemudian bergerak ke Jepang ras yang berasal dari Asia
Selatan, yaitu Polinesia – Melanesia. Masuk pula ras Cina dari daratan Cina dan
ras Mongol melalui Korea. Dan ada pula yang masuk dari Siberia yang berbeda
dari kaum Mongol.
Boleh dikatakan,
lima sumber ini menjadi asal bangsa dan orang Jepang yang kemudian. Kendatipun
demikian, dalam percakapan umumnya, orang Jepang merasa dari dua sumber, yaitu
Cina dan Asia Tenggara. Dengan begitu, ia mungkin menyatukan sumber Mongol dan
Siberia menjadi satu dengan sumber Cina yang sebetulnya secara ras berbeda
sekali. Dan juga menunjukan bahwa ia tidak merasa berasal dari kaum Ainu. Yang
meskipun didesak ke utara oleh mereka yang berasal dari selatan dan barat
tetapi turut membentuk penduduk Jepang. Tetapi, meskipun rakyat Jepang berasal
dari lima sumber, dalam perkembangan sejarahnya ia telah menjadi satu bangsa
yang homogeny. Ia pun berkembang berbeda sama sekali dengan bangsa-bangsa yang
menjadi sumbernya, baik mereka yang di Asia Tenggara maupun di daratan Asia.
Kalaupun sekarang masih ada pengaruh dari sumber keturunannya, makahal itu
hanya tampak pada bentuk jasmaniahnya saja, di mana ada sebagian dari rakyat Jepang
yang mirip orang Asia Tenggara dan ada pula yang mirip orang daratan Asia.
Ataupun pada sikap mereka yang merasa dekat dengan orang Asia Tenggara atau
Cina.
Dengan didahului
oleh periode Jomon yang ditandai oleh pembuatan pot atau kuali (pottery) Yang diberi tali-temali pada
wajah luarnya, dan periode Yayoi yang mulai timbul pada abad ke-3 S.M. yang
telah memperkenakan penanaman padi dengan irigasi, maka kita melihat
terbentuknya kerajaan Yamato. Di daam buku-buku sejarah Jepang, Kojiki (diperkirakan ditulis pada tahun
712) dan Nihonshoki (ditulis pada
ahun 720 di bawah pimpinan pejabat resmi), tercantum sumber-sumber terjadinya
kerajaan Jepang. Mitos ini menggambarkan kepulauan Jepang berasal dari dewa Izanami
dan dewi Izanagi, serta dewa-dewa Takamagahara. Di antara dewa-dewa
Takamagahara, yang terpenting adalah Amaterasu Omikami, (dewi matahari) dan
kakaknya, Susano-o-no-mikoto (dewa taufan).
Menurut mitos
Jepang, Ninigo-no-mikoto, cucu Amatrasu Omikami, turun ke bumi di Kyushu (pulau
di barat daya di Jepang) untuk memerintah umat manusia. Untuk itu ia dilengkapi
dengan tiga benda suci sebagai lambing kekuasaan, yaitu kalung, kaca dan
pedang. Tiga benda suci itu hingga kini masih dipakai oleh setiap Tenno Heika
sebagai tanda kekuasaannya, dan sebagai warisan dari sumber kedewaanyya. Cucu
Ninigo-no-mikoto pergi ke Yamato, tanah datar di pulau Honshu yang terletak di
sebelah timur laut Kyushu. Disana ia membangun kekuasaanya dan kemudian disebut
Jimmu Tenno. Menurut kepercayaan Jepang, sejak Jimmu Tenno, melalui berbagai
Tenno, hingga Tenno Heika yang sekarang, terdapat gari keturunan yang tak
terputus.
Izanagi-no-kami dan Izanami-no-kami yang
lebih dikenal dengan nama Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto
inilah yang kemudian melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi nenek moyang
kaisar Jepang Kemudian Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto
turun ke Onogoro shima dan mendirikan sebuah pilar yang besar serta
sebuah istana yang luas. Di pulau ini keduanya bermaksud untuk menciptakan
kelahiran. Lalu Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto sepakat
untuk menikah
Ø Izanagi dan Izanami
Izanagi dan Izanami turun
di Ashihara no
Nakatsu Kuni, menikah, dan berturut-turut melahirkan pulau-pulau
yang membentuk kepulauan Jepang yang disebut Yashima. Setelah
melahirkan berbagai kami,
Izanami tewas akibat luka bakar saat melahirkan Kagutsuchi (dewa api). Setelah membunuh
Kagutsuchi, Izanagi pergi ke negeri Yomi untuk
mencari dan menyelamatkan Izanami. Setelah berada di negeri Yomi, wujud Izanami
berubah menjadi menakutkan. Izanagi yang melihat sosok Izanami menjadi lari
ketakutan.
Izanagi menjalani misogi (mandi) karena tidak suka dengan
kekotoran (kegare) yang terbawa
dari Yomi. Ketika melakukan misogi, Izanagi melahirkan pula sejumlah kami, saat mencuci mata kiri
terlahir Amaterasu (dewa matahari, penguasa
Takamanohara), saat mencuci mata kanan terlahir Tsukuyomi (dewa bulan, penguasa malam), dan saat
mencuci hidung lahir Susanoo (penguasa samudra). Ketiga kami ini disebut Mihashira no
Uzu no Miko, dan menerima perintah dari Izanagi untuk menguasai
dunia.
Ø Amaterasu dan Susanoo
Susanoo ingin pergi ke
tempat Izanami di Ne no Kuni dan berteriak-teriak menangis hingga
membuat kerusakan luar biasa di langit dan bumi. Susanoo akhirnya pergi naik ke
Takamanohara yang diperintah Amaterasu. Kedatangan Susanoo salah dimengerti,
Amaterasu menyangka Susanoo datang untuk merebut Takamanohara. Susanoo disambut
Amaterasu dengan busur dan anak panah.
Agar kecurigaan Amaterasu terhapus, dari setiap benda yang menempel di badan
Susanoo lahir kami yang jenis kelaminnya membuktikan
kemurnian tubuh Susanoo. Amaterasu percaya dan mengizinkan Susanoo berada di
Takamanohara. Di sana Susanoo membuat keonaran lagi sampai Amaterasu
bersembunyi di dalam gua Ama no Iwato. Amaterasu
adalah dewa matahari, sehingga matahari tidak terbit selama Amaterasu
bersembunyi. Para kami di Takamanohara menjadi susah hati.
Amaterasu akhirnya keluar dari dalam gua setelah dikelabui. Susanoo yang sering
membuat susah akhirnya diusir ke dunia bawah.
Ø Legenda Izumo
Susanno turun ke negeri Izumo.
Setelah berhasil membunuh monster Yamata no Orochi yang suka merusak, Susanoo menikah
dengan putri Kunitsukami. Cucu
keturunan Susanoo bernamaOokuninushi menikah dengan putri Susanoo dan
membangun negeri Sukunahikona dan Ashihara no
Nakatsukuni. Menurut penjelasan nama tempat yang ada di buku Fudoki negeri Izumo, lokasi pembasmian Yamata
no Orochi ada di distrik Ou (sekarang kota Yasugi, Prefektur
Shimane), tapi bukan Susanoo yang menjadi pahlawan, melainkan
Oonamuchi (Ookuninushi).
Ø Penaklukan Ashihara no
Nakatsu
Semeentara itu, Amaterasu
dan para kami di Takamanohara menyatakan
negeri Ashihara no
Nakatsu no Kuni (Izumo)
harus diperintah Amatsukami atau cucu keturunan Amaterasu. Sejumlah kami dikirim ke Izumo untuk mewujudkan
keinginan ini. Setelah dua anak Ookuninushi, Kotoshironushi dan Takeminakata menitis ke Amaterasu o mi kami,
Ookuninushi berjanji untuk memberikan negeri Izumo dengan syarat dibangunkan
sebuah istana. Istana ini nantinya disebut Izumo Taisha.
Ninigi yang merupakan cucu Amaterasu menerima
Ashihara no Nakatsu. Ninigi turun ke negeri Hyūga dan kemudian menikahi Putri Konohanasakuya.
Ø Kisah Hoori dan Hoderi
Ninigi memiliki dua putera, Hoori dan Hoderi. Mata pancing milik
Hoderi dihilangkan Hoori sehingga kedua bersaudara ini bertengkar. Hoori lalu
pergi ke istana Kaijin (dewa laut) dan menemukan mata pancing Hoderi di sana.
Sewaktu berada di sana, Hoori menikah dengan putri dewa laut. Dari pernikahan
ini lahir anak laki-laki bernama Ugaya Fukiaezu. Putra keturunan Ugaya Fukiaezu
yang bernama Kamuyamato Iwarehito nantinya menjadi Kaisar Jimmu.
Ø Kaisar Jimmu
Kaisar Jimmu (神武天皇 Jimmu Tennō?) (711
SM - 585 SM) adalah kaisar Jepang yang pertama, bertahta dari tahun 1 bulan 1 hari 1 (bulan 2 hari 11 660 SM) hingga tahun 76 bulan 3 hari 11 era Kaisar Jimmu). Nama kaisar ini sama
dengan nama kaisar Jepang pertama seperti dikisahkan dalam mitologi Jepang menurut Kojiki dan Nihon Shoki.
Kamuyamato iwarehito dan
kakak-kakaknya berkeinginan menguasai Yamato. Penduduk yang sejak dulu berdiam
wilayah Yamato melawan dengan sekuat tenaga, dan pertempuran sengit terjadi.
Kesaktian Kamuyamato Iwarehiko yang masih keturunan dewa bukan tandingan bagi
penduduk Yamato. Pada akhirnya, Kamuyamato Iwarehiko naik tahta sebagai kaisar
di kaki gunungUnebikashihara no Miya.
Kamuyamato Iwarehiko nantinya dikenal sebagai kaisar pertama Jepang Kaisar Jimmu.
Ø Kesshi Hachi-dai
Delapan kaisar,
termasuk kaisar kedua Kaisar Suizei hingga
kaisar ke-9 Kaisar Kaika disebut
sebagai Kesshi Hachi-dai.
Kedelapan nama kaisar tertulis dalam Kojiki dan Nihon-shoki,
tapi tidak dijelaskan peran dan jasa-jasanya.
Pada waktu terjadinya surga dan bumi, terdapat 3 dewa
tunggal (dewa yang tidak mempunyai pasangan) yang dianggap sebagai dewa
permulaan. Adapun ke 3 dewa tersebut adalah sebagai berikut :
a. Ame-no-minaka-nushi-no-kami
b. Taka-mi-musuhi-no-kami
c. Kamu-musuhi-no-kami
Izanagi-no-kami dan Izanami-no-kami yang
lebih dikenal dengan nama Izanagi-no mikoto dan Izanami-no-mikoto
inilah yang kemudian melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi nenek moyang
kaisar Jepang.
Dewa-dewa surga kemudian memerintahkan Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto untuk menyempurnakan dan menjadikan keras penumpukan daratan yang masih menyerupai ubur-ubur. Sebagai alat untuk melaksanakan tugas mereka, maka dewa-dewa surga memberikan sebuah tombak pada Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto. Sebelum turun dari surga, Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto berdiri di jembatan gantung surga dan mengaduk-aduk daratan dengan tombak yang mereka terima dari dewa-dewa surga. Pada waktu mereka mengangkat tombak itu, dari ujung tombak menetes cairan. Semakin lama cairan yang menetes tersebut semakin banyak dan bertumpuk. Akhirnya tumpukan cairan itu mmenjadi suatu pulau yangdisebut,Onogoroshima.
Kemudian Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto turun ke Onogoro shima dan mendirikan sebuah pilar yang besar serta sebuah istana yang luas. Di pulau ini keduanya bermaksud untuk menciptakan kelahiran. Lalu Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto sepakat untuk menikah dan berjalan mengelilingi pilar besar itu. Maka mulailah mereka mengelilingi pilar tersebut. Izanagi-no-mikoto berjalan memutar dari kiri ke kanan. Sedangkan Izanami-no-mikoto berjalan memutar dari arah yang berlawanan, yaitu dari kanan ke kiri. Pada waktu keduanya bertemu Izanami-no-mikoto terlebih dahulu berseru memuji ketampanan Izanagi-no-mikoto. Setelah itu barulah Izanagi-no-mikoto yang berseru memuji kecantikan Izanami-no-mikoto.
Dewa-dewa surga kemudian memerintahkan Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto untuk menyempurnakan dan menjadikan keras penumpukan daratan yang masih menyerupai ubur-ubur. Sebagai alat untuk melaksanakan tugas mereka, maka dewa-dewa surga memberikan sebuah tombak pada Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto. Sebelum turun dari surga, Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto berdiri di jembatan gantung surga dan mengaduk-aduk daratan dengan tombak yang mereka terima dari dewa-dewa surga. Pada waktu mereka mengangkat tombak itu, dari ujung tombak menetes cairan. Semakin lama cairan yang menetes tersebut semakin banyak dan bertumpuk. Akhirnya tumpukan cairan itu mmenjadi suatu pulau yangdisebut,Onogoroshima.
Kemudian Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto turun ke Onogoro shima dan mendirikan sebuah pilar yang besar serta sebuah istana yang luas. Di pulau ini keduanya bermaksud untuk menciptakan kelahiran. Lalu Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto sepakat untuk menikah dan berjalan mengelilingi pilar besar itu. Maka mulailah mereka mengelilingi pilar tersebut. Izanagi-no-mikoto berjalan memutar dari kiri ke kanan. Sedangkan Izanami-no-mikoto berjalan memutar dari arah yang berlawanan, yaitu dari kanan ke kiri. Pada waktu keduanya bertemu Izanami-no-mikoto terlebih dahulu berseru memuji ketampanan Izanagi-no-mikoto. Setelah itu barulah Izanagi-no-mikoto yang berseru memuji kecantikan Izanami-no-mikoto.
Dari pernikahan Izanagi-no-mikoto
dan Izanami-no-mikoto ini lahirlah seorang anak yang cacat, tidak bisa
berjalan. Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto kemudian
menghanyutkan anak yang cacat tersebut karena dianggap tidak baik. Kemudian Izanami-no-mikoto
melahirkan sebuah pulau yang disebut Awa-shima. Meskipun terjadi dari
pernikahan Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto anak yang
dilahirkan cacat dan Awa-shima ini tidak diperhitungkan sebagai anak
mereka karena dianggap tidak sempurna. Maka kemudian Izanagi-no-mikoto dan
Izanami-no-mikoto kembali ke surga dan melaporkan hal tersebut kepada
dewa-dewa surga.
Kemudian para dewa surga memberi petunjuk pada keduanya supaya laki-laki dahulu yang menyapa perempuan. Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto lalu kembali ke Onogoro shima dan berusaha melaksanakan petunjuk dari dewa-dewa surga. Izanagi-no-mikoto berjalan memutar dari kiri ke kanan dan Izanami-no-mikoto dari kanan ke kiri. Pada waktu bertemu Izanagi-no-mikoto menyapa terlebih dahulu. Setelah itu disusul Izanami-no-mikoto yang menyapa. Pertemuan mereka ini menghasilkan sebuah pulau yaitu Awaji-no-ho-no-sa-wake-no-shima. Pulau ini mulai diperhitungkan sebagai anak Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto.
Setelah menghasilkan pulau ini, berturut-turut Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto menghasilkan pulau-pulau lain yang dianggap sebagai keturunan mereka Setelah menghasilkan pulau-pulau tersebut, barulah Izanami-no-mikoto melahirkan dewa-dewa. Sebelum Izanami-no-mikoto meninggal, ia telah melahirkan sebanyak 35 dewa. Dewa terakhir yang dilahirkan oleh Izanami-no-mikoto adalah Hi-no-kagu-tsuchi-no-kami (dewa api).
Kemudian para dewa surga memberi petunjuk pada keduanya supaya laki-laki dahulu yang menyapa perempuan. Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto lalu kembali ke Onogoro shima dan berusaha melaksanakan petunjuk dari dewa-dewa surga. Izanagi-no-mikoto berjalan memutar dari kiri ke kanan dan Izanami-no-mikoto dari kanan ke kiri. Pada waktu bertemu Izanagi-no-mikoto menyapa terlebih dahulu. Setelah itu disusul Izanami-no-mikoto yang menyapa. Pertemuan mereka ini menghasilkan sebuah pulau yaitu Awaji-no-ho-no-sa-wake-no-shima. Pulau ini mulai diperhitungkan sebagai anak Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto.
Setelah menghasilkan pulau ini, berturut-turut Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto menghasilkan pulau-pulau lain yang dianggap sebagai keturunan mereka Setelah menghasilkan pulau-pulau tersebut, barulah Izanami-no-mikoto melahirkan dewa-dewa. Sebelum Izanami-no-mikoto meninggal, ia telah melahirkan sebanyak 35 dewa. Dewa terakhir yang dilahirkan oleh Izanami-no-mikoto adalah Hi-no-kagu-tsuchi-no-kami (dewa api).
Setelah melahirkan dewa ini alat
kelamin Izanami-no-mikoto terbakar sehingga jatuh sakit. Akhirnya
Izanami-no-mikoto meninggal dunia. Karena dianggap sebagai penyebab kematian Izanami-no-mikoto,
maka Izanagi-no-mikoto memenggal kepala Hi-no-kagu-tsuchi-no-kami.
Tetesan darah yang ada di ujung pedang kemudian menjelma menjadi dewa-dewa yang
berjumlah 8 dewa. Bagian tubuh Hi-no-kagu-tsuchi-no-kami yang telah mati
juga menjelma menjadi dewa-dewa sebanyak 8 dewa. Setelah itu Izanagi-no-mikoto
menyusul istrinya ke Yomi-no-kuni yang merupakan tempat orang-orang yang
telah mati. Akan tetapi saat ia melihat bagian tubuh istrinya yang banyak
dimakan belatung-belatung, Izanagi-no-mikoto ketakutan, dan melarikan
diri.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulannya adalah bangsa Jepang
percaya, bahwa asal-usul nenek moyang bangsa Jepang adalah Amaterasu omikami atau dewi matahari, ia adalah keturunan dari Izanagi-no-mikoto
dan Izanami-no-mikoto. Lalu Ninigi-no-Mikoto dalam mitologi Jepang adalah cucu dari Amaterasu omikami, yang dikirim ke bumi, dia adalah
kakek-besar Kaisar Jimmu. Dan sampai sekarang tahta
diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Sayidiman
Suryohadiprojo. 1987. Belajar Dari Jepang
Manusia dan Masyarakat Jepang dalam Perjoangan Hidup. Jakarta: UI Press
·
http://id.wikipedia.org/wiki/Kaisar_Jimmu