Selasa, 14 Januari 2014

Nenek Moyang Bangsa Jepang

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Jepang adalah suatu Negara kepulauan dengan pulau-pulau besar dan kecil. Yang mempunyai sejarah unik diantaranya asal usul bangsa jepang yang begitu menarik untuk dibicarakan. Orang Jepang termasuk bangsa tertua di dunia. Manusia telah hidup di sana sejak sekitar 30000 SM. Jepang klasik terbentuk sekitar tahun 300 SM. Namun yang lebih dibanggakan orang Jepang adalah bahwa kerajaannya merupakan satu kesatuan Negara yang berlangsung secara kontinu dan paling ama diantara bangsa-bangsa di dunia.

B.       Rumusan Masalah
1.      Siapa nenek moyang bangsa Jepang sesungguhnya?

C.      Tujuan
1.    Mengetahui nenek moyang bangsa Jepang sesungguhnya.




BAB II
PEMBAHASAN


A.      ASAL USUL BANGSA JEPANG
Dunia berawal di Takamanohara, di sama lahir berbagai kami seperti Kotoamatsukami dan Kaminoyonanayo. Kami yang lahir paling akhir adalah dua bersaudara Izanagi dan Izanami.
Orang Jepang termasuk bangsa tertua di dunia. Manusia telah hidup di sana sejak sekitar 30000 SM. Jepang klasik terbentuk sekitar tahun 300 SM. Namun yang lebih dibanggakan orang Jepang adalah bahwa kerajaannya merupakan satu kesatuan Negara yang berlangsung secara kontinu dan paling lama diantara bangsa-bangsa di dunia.
Pada zaman purba, Jepang dihuni oleh orang Ainu atau Ezo. Orang Ainu merupakan bangsa unik dan tidak memiliki hubungan dengan suku manapun. Orang Jepang modern pindah ke kepulauan ini pada zaman prasejarah dari Korea dan Manchuria di daratan Asia. Mereka mendesak orang Ainu sehingga pindah ke pulau paling utara, Hokkaido.
Kita melihat bahwa orang Jepang yang sekarang adalah hasil dari perpaduan berbagai ras yang berimigerasi ke Jepang, sehinga tidak diketahui siapa yang merupakan betul-betul ras asli Jepang. Yang paling awal diketahui di Jepang adalah Ainu, yang mempunyai hubungan dengan ras Kaukasia, dan karena itu mungkin sekali bukan penduduk asli. Kemudian bergerak ke Jepang ras yang berasal dari Asia Selatan, yaitu Polinesia – Melanesia. Masuk pula ras Cina dari daratan Cina dan ras Mongol melalui Korea. Dan ada pula yang masuk dari Siberia yang berbeda dari kaum Mongol.
Boleh dikatakan, lima sumber ini menjadi asal bangsa dan orang Jepang yang kemudian. Kendatipun demikian, dalam percakapan umumnya, orang Jepang merasa dari dua sumber, yaitu Cina dan Asia Tenggara. Dengan begitu, ia mungkin menyatukan sumber Mongol dan Siberia menjadi satu dengan sumber Cina yang sebetulnya secara ras berbeda sekali. Dan juga menunjukan bahwa ia tidak merasa berasal dari kaum Ainu. Yang meskipun didesak ke utara oleh mereka yang berasal dari selatan dan barat tetapi turut membentuk penduduk Jepang. Tetapi, meskipun rakyat Jepang berasal dari lima sumber, dalam perkembangan sejarahnya ia telah menjadi satu bangsa yang homogeny. Ia pun berkembang berbeda sama sekali dengan bangsa-bangsa yang menjadi sumbernya, baik mereka yang di Asia Tenggara maupun di daratan Asia. Kalaupun sekarang masih ada pengaruh dari sumber keturunannya, makahal itu hanya tampak pada bentuk jasmaniahnya saja, di mana ada sebagian dari rakyat Jepang yang mirip orang Asia Tenggara dan ada pula yang mirip orang daratan Asia. Ataupun pada sikap mereka yang merasa dekat dengan orang Asia Tenggara atau Cina.
Dengan didahului oleh periode Jomon yang ditandai oleh pembuatan pot atau kuali (pottery) Yang diberi tali-temali pada wajah luarnya, dan periode Yayoi yang mulai timbul pada abad ke-3 S.M. yang telah memperkenakan penanaman padi dengan irigasi, maka kita melihat terbentuknya kerajaan Yamato. Di daam buku-buku sejarah Jepang, Kojiki (diperkirakan ditulis pada tahun 712) dan Nihonshoki (ditulis pada ahun 720 di bawah pimpinan pejabat resmi), tercantum sumber-sumber terjadinya kerajaan Jepang. Mitos ini menggambarkan kepulauan Jepang berasal dari dewa Izanami dan dewi Izanagi, serta dewa-dewa Takamagahara. Di antara dewa-dewa Takamagahara, yang terpenting adalah Amaterasu Omikami, (dewi matahari) dan kakaknya, Susano-o-no-mikoto (dewa taufan).
Menurut mitos Jepang, Ninigo-no-mikoto, cucu Amatrasu Omikami, turun ke bumi di Kyushu (pulau di barat daya di Jepang) untuk memerintah umat manusia. Untuk itu ia dilengkapi dengan tiga benda suci sebagai lambing kekuasaan, yaitu kalung, kaca dan pedang. Tiga benda suci itu hingga kini masih dipakai oleh setiap Tenno Heika sebagai tanda kekuasaannya, dan sebagai warisan dari sumber kedewaanyya. Cucu Ninigo-no-mikoto pergi ke Yamato, tanah datar di pulau Honshu yang terletak di sebelah timur laut Kyushu. Disana ia membangun kekuasaanya dan kemudian disebut Jimmu Tenno. Menurut kepercayaan Jepang, sejak Jimmu Tenno, melalui berbagai Tenno, hingga Tenno Heika yang sekarang, terdapat gari keturunan yang tak terputus. Izanagi-no-kami dan Izanami-no-kami yang lebih dikenal dengan nama Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto inilah yang kemudian melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi nenek moyang kaisar Jepang Kemudian Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto turun ke Onogoro shima dan mendirikan sebuah pilar yang besar serta sebuah istana yang luas. Di pulau ini keduanya bermaksud untuk menciptakan kelahiran. Lalu Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto sepakat untuk menikah

Ø  Izanagi dan Izanami

Izanagi dan Izanami turun di Ashihara no Nakatsu Kuni, menikah, dan berturut-turut melahirkan pulau-pulau yang membentuk kepulauan Jepang yang disebut Yashima. Setelah melahirkan berbagai kami, Izanami tewas akibat luka bakar saat melahirkan Kagutsuchi (dewa api). Setelah membunuh Kagutsuchi, Izanagi pergi ke negeri Yomi untuk mencari dan menyelamatkan Izanami. Setelah berada di negeri Yomi, wujud Izanami berubah menjadi menakutkan. Izanagi yang melihat sosok Izanami menjadi lari ketakutan.
Izanagi menjalani misogi (mandi) karena tidak suka dengan kekotoran (kegare) yang terbawa dari Yomi. Ketika melakukan misogi, Izanagi melahirkan pula sejumlah kami, saat mencuci mata kiri terlahir Amaterasu (dewa matahari, penguasa Takamanohara), saat mencuci mata kanan terlahir Tsukuyomi (dewa bulan, penguasa malam), dan saat mencuci hidung lahir Susanoo (penguasa samudra). Ketiga kami ini disebut Mihashira no Uzu no Miko, dan menerima perintah dari Izanagi untuk menguasai dunia.

Ø  Amaterasu dan Susanoo

Susanoo ingin pergi ke tempat Izanami di Ne no Kuni dan berteriak-teriak menangis hingga membuat kerusakan luar biasa di langit dan bumi. Susanoo akhirnya pergi naik ke Takamanohara yang diperintah Amaterasu. Kedatangan Susanoo salah dimengerti, Amaterasu menyangka Susanoo datang untuk merebut Takamanohara. Susanoo disambut Amaterasu dengan busur dan anak panah. Agar kecurigaan Amaterasu terhapus, dari setiap benda yang menempel di badan Susanoo lahir kami yang jenis kelaminnya membuktikan kemurnian tubuh Susanoo. Amaterasu percaya dan mengizinkan Susanoo berada di Takamanohara. Di sana Susanoo membuat keonaran lagi sampai Amaterasu bersembunyi di dalam gua Ama no Iwato. Amaterasu adalah dewa matahari, sehingga matahari tidak terbit selama Amaterasu bersembunyi. Para kami di Takamanohara menjadi susah hati. Amaterasu akhirnya keluar dari dalam gua setelah dikelabui. Susanoo yang sering membuat susah akhirnya diusir ke dunia bawah.

Ø  Legenda Izumo

Susanno turun ke negeri Izumo. Setelah berhasil membunuh monster Yamata no Orochi yang suka merusak, Susanoo menikah dengan putri Kunitsukami. Cucu keturunan Susanoo bernamaOokuninushi menikah dengan putri Susanoo dan membangun negeri Sukunahikona dan Ashihara no Nakatsukuni. Menurut penjelasan nama tempat yang ada di buku Fudoki negeri Izumo, lokasi pembasmian Yamata no Orochi ada di distrik Ou (sekarang kota Yasugi, Prefektur Shimane), tapi bukan Susanoo yang menjadi pahlawan, melainkan Oonamuchi (Ookuninushi).

Ø  Penaklukan Ashihara no Nakatsu

Semeentara itu, Amaterasu dan para kami di Takamanohara menyatakan negeri Ashihara no Nakatsu no Kuni (Izumo) harus diperintah Amatsukami atau cucu keturunan Amaterasu. Sejumlah kami dikirim ke Izumo untuk mewujudkan keinginan  ini. Setelah dua anak Ookuninushi, Kotoshironushi dan Takeminakata menitis ke Amaterasu o mi kami, Ookuninushi berjanji untuk memberikan negeri Izumo dengan syarat dibangunkan sebuah istana. Istana ini nantinya disebut Izumo Taisha. Ninigi yang merupakan cucu Amaterasu menerima Ashihara no Nakatsu. Ninigi turun ke negeri Hyūga dan kemudian menikahi Putri Konohanasakuya.

Ø  Kisah Hoori dan Hoderi

Ninigi memiliki dua putera, Hoori dan Hoderi. Mata pancing milik Hoderi dihilangkan Hoori sehingga kedua bersaudara ini bertengkar. Hoori lalu pergi ke istana Kaijin (dewa laut) dan menemukan mata pancing Hoderi di sana. Sewaktu berada di sana, Hoori menikah dengan putri dewa laut. Dari pernikahan ini lahir anak laki-laki bernama Ugaya Fukiaezu. Putra keturunan Ugaya Fukiaezu yang bernama Kamuyamato Iwarehito nantinya menjadi Kaisar Jimmu.

Ø  Kaisar Jimmu

Kaisar Jimmu (神武天皇 Jimmu Tennō?) (711 SM - 585 SM) adalah kaisar Jepang yang pertama, bertahta dari tahun 1 bulan 1 hari 1 (bulan 2 hari 11 660 SM) hingga tahun 76 bulan 3 hari 11 era Kaisar Jimmu). Nama kaisar ini sama dengan nama kaisar Jepang pertama seperti dikisahkan dalam mitologi Jepang menurut Kojiki dan Nihon Shoki.
Kamuyamato iwarehito dan kakak-kakaknya berkeinginan menguasai Yamato. Penduduk yang sejak dulu berdiam wilayah Yamato melawan dengan sekuat tenaga, dan pertempuran sengit terjadi. Kesaktian Kamuyamato Iwarehiko yang masih keturunan dewa bukan tandingan bagi penduduk Yamato. Pada akhirnya, Kamuyamato Iwarehiko naik tahta sebagai kaisar di kaki gunungUnebikashihara no Miya. Kamuyamato Iwarehiko nantinya dikenal sebagai kaisar pertama Jepang Kaisar Jimmu.

Ø  Kesshi Hachi-dai

Delapan kaisar, termasuk kaisar kedua Kaisar Suizei hingga kaisar ke-9 Kaisar Kaika disebut sebagai Kesshi Hachi-dai. Kedelapan nama kaisar tertulis dalam Kojiki dan Nihon-shoki, tapi tidak dijelaskan peran dan jasa-jasanya.

Pada waktu terjadinya surga dan bumi, terdapat 3 dewa tunggal (dewa yang tidak mempunyai pasangan) yang dianggap sebagai dewa permulaan. Adapun ke 3 dewa tersebut adalah sebagai berikut :
a. Ame-no-minaka-nushi-no-kami
b. Taka-mi-musuhi-no-kami
c. Kamu-musuhi-no-kami

              Izanagi-no-kami dan Izanami-no-kami yang lebih dikenal dengan nama Izanagi-no mikoto dan Izanami-no-mikoto inilah yang kemudian melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi nenek moyang kaisar Jepang.
Dewa-dewa surga kemudian memerintahkan Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto untuk menyempurnakan dan menjadikan keras penumpukan daratan yang masih menyerupai ubur-ubur. Sebagai alat untuk melaksanakan tugas mereka, maka dewa-dewa surga memberikan sebuah tombak pada Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto. Sebelum turun dari surga, Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto berdiri di jembatan gantung surga dan mengaduk-aduk daratan dengan tombak yang mereka terima dari dewa-dewa surga. Pada waktu mereka mengangkat tombak itu, dari ujung tombak menetes cairan. Semakin lama cairan yang menetes tersebut semakin banyak dan bertumpuk. Akhirnya tumpukan cairan itu mmenjadi suatu pulau yangdisebut,Onogoroshima.
             Kemudian Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto turun ke Onogoro shima dan mendirikan sebuah pilar yang besar serta sebuah istana yang luas. Di pulau ini keduanya bermaksud untuk menciptakan kelahiran. Lalu Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto sepakat untuk menikah dan berjalan mengelilingi pilar besar itu. Maka mulailah mereka mengelilingi pilar tersebut. Izanagi-no-mikoto berjalan memutar dari kiri ke kanan. Sedangkan Izanami-no-mikoto berjalan memutar dari arah yang berlawanan, yaitu dari kanan ke kiri. Pada waktu keduanya bertemu Izanami-no-mikoto terlebih dahulu berseru memuji ketampanan Izanagi-no-mikoto. Setelah itu barulah Izanagi-no-mikoto yang berseru memuji kecantikan Izanami-no-mikoto.
             Dari pernikahan Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto ini lahirlah seorang anak yang cacat, tidak bisa berjalan. Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto kemudian menghanyutkan anak yang cacat tersebut karena dianggap tidak baik. Kemudian Izanami-no-mikoto melahirkan sebuah pulau yang disebut Awa-shima. Meskipun terjadi dari pernikahan Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto anak yang dilahirkan cacat dan Awa-shima ini tidak diperhitungkan sebagai anak mereka karena dianggap tidak sempurna. Maka kemudian Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto kembali ke surga dan melaporkan hal tersebut kepada dewa-dewa surga.
              Kemudian para dewa surga memberi petunjuk pada keduanya supaya laki-laki dahulu yang menyapa perempuan. Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto lalu kembali ke Onogoro shima dan berusaha melaksanakan petunjuk dari dewa-dewa surga. Izanagi-no-mikoto berjalan memutar dari kiri ke kanan dan Izanami-no-mikoto dari kanan ke kiri. Pada waktu bertemu Izanagi-no-mikoto menyapa terlebih dahulu. Setelah itu disusul Izanami-no-mikoto yang menyapa. Pertemuan mereka ini menghasilkan sebuah pulau yaitu Awaji-no-ho-no-sa-wake-no-shima. Pulau ini mulai diperhitungkan sebagai anak Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto.
               Setelah menghasilkan pulau ini, berturut-turut Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto menghasilkan pulau-pulau lain yang dianggap sebagai keturunan mereka Setelah menghasilkan pulau-pulau tersebut, barulah Izanami-no-mikoto melahirkan dewa-dewa. Sebelum Izanami-no-mikoto meninggal, ia telah melahirkan sebanyak 35 dewa. Dewa terakhir yang dilahirkan oleh Izanami-no-mikoto adalah Hi-no-kagu-tsuchi-no-kami (dewa api).
               Setelah melahirkan dewa ini alat kelamin Izanami-no-mikoto terbakar sehingga jatuh sakit. Akhirnya Izanami-no-mikoto meninggal dunia. Karena dianggap sebagai penyebab kematian Izanami-no-mikoto, maka Izanagi-no-mikoto memenggal kepala Hi-no-kagu-tsuchi-no-kami. Tetesan darah yang ada di ujung pedang kemudian menjelma menjadi dewa-dewa yang berjumlah 8 dewa. Bagian tubuh Hi-no-kagu-tsuchi-no-kami yang telah mati juga menjelma menjadi dewa-dewa sebanyak 8 dewa. Setelah itu Izanagi-no-mikoto menyusul istrinya ke Yomi-no-kuni yang merupakan tempat orang-orang yang telah mati. Akan tetapi saat ia melihat bagian tubuh istrinya yang banyak dimakan belatung-belatung, Izanagi-no-mikoto ketakutan, dan melarikan diri.
              BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulannya adalah bangsa Jepang percaya, bahwa asal-usul nenek moyang bangsa Jepang adalah Amaterasu omikami atau dewi matahari, ia adalah keturunan dari Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto. Lalu Ninigi-no-Mikoto dalam mitologi Jepang adalah cucu dari Amaterasu omikami, yang dikirim ke bumi, dia adalah kakek-besar Kaisar Jimmu. Dan sampai sekarang tahta diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.























      DAFTAR PUSTAKA

·         Sayidiman Suryohadiprojo. 1987. Belajar Dari Jepang Manusia dan Masyarakat Jepang dalam Perjoangan Hidup. Jakarta: UI Press

·         http://id.wikipedia.org/wiki/Kaisar_Jimmu



abu bakar ash shidiq

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Sejarah merupakan suatu rujukan yang sangat penting saat kita akan membangun masa depan. Sekaitan dengan itu kita bisa tahu apa dan bagaimana perkembangan islam pada masa lampau. Namun, kadang kita sebagai umat Islam malas untuk melihat sejarah. Sehingga kita cenderung berjalan tanpa tujuan dan mungkin mengulangi kesalahan yang pernah ada dimasa lalu. Disnilah sejarah berfungsi sebagai cerminan bahwa dimasa silam telah terjadi sebuah kisah yang patut kita pelajari untuk merancang serta merencanakan matang-matang untuk masa depan yang lebih cemerlang tanpa tergoyahkan dengan kekuatan apa pun.
Perkembangan Islam pada zaman Nabi Muhammad SAW dan Para Sahabat adalah merupakan Agam Islam pada zaman keemasan, hal itu bisa terlihat bagaimana kemurnian Islam itu sendiri dengan adanya pelaku dan faktor utamanya yaitu Rasulullah SAW. Kemudian pada zaman selanjutnya yaitu zaman para sahabat, terkhusus pada zaman Khalifah empat atau yang lebih terkenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin, Islam berkembang dengan pesat dimana hampir 2/3 bumi yang kita huni ini hampir dipegang dan dikendalikan oleh Islam. Hal itu tentunya tidak terlepas dari para pejuang yang sangat gigih dalam mempertahankan dan juga dalam menyebarkan islam sebagai agama Tauhid yang diridhoi. Perkembangan islam pada zaman inilah merupakan titik tolak perubahan peradaban kearah yang lebih maju. Maka tidak heran para sejarawan mencatat bahwa islam pada zaman Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin merupakan islam yang luar biasa pengaruhnya. Namun yang terkadang menjadi pertanyaan adalah kenapa pada zaman sekarang ini seolah kita melupakannya. Sekaitan dengan itu perlu kiranya kita melihat kembali dan mengkaji kembali bagaimana sejarah islam yang sebenarnya.

B.       Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah riwayat Abu Bakar Ash-Shiddiq?
2.      Bagaimana proses Abu Bakar menjadi  khalifah?
3.      Bagaimana sistem pemerintahan khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq?
4.      Bagaimana penyebaran dan kekuasaan islam pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq?
5.      Bagaiman peradaban pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq?
6.      Apa isi wasiat Abu Bakar terhadap Umar bin Khathab?
7.      Bagaimana wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq?

C.      Tujuan
1.      Mengetahui riwayat Abu Bakar Ash-Shiddiq
2.      Mengetahui proses Abu Bakar menjadi  khalifah
3.      Mengetahui sistem pemerintahan khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq
4.      Mengetahui penyebaran dan kekuasaan islam pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq
5.      Mengetahui peradaban pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq
6.      Mengetahui isi wasiat Abu Bakar terhadap Umar bin Khathab
7.      Mengetahui wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Riwayat Abu Bakar Ash-Shiddiq
Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah nama yang disandangkan (julukan) terhadap beliau, sedangkan nama asli beliau adalah Abdullah bin Abi Quhafah bin ustman bin Amr bin Masud bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr At-Taimi Al-Quraishi. Berarti silsilah keturunannya dengan Nabi Muhammad Saw bertemu pada Murrah bin Ka’ab. Abu Bakar dilahirkan di lingkungan suku yang sangat berpengaruh pada tahun 573 M, dan suku yang juga banyak melahirkan tokoh-tokoh besar. Ayahnya bernama Ustman (Abu Kuhafah) bin Amir, sedangkan ibunya bernama Ummu Al-Khair Salmah binti Sahr bin Ka’ab.
Abu Bakar dilahirkan dua tahun setelah Kelahiran Nabi Muhammad Saw. Abdullah kemudian digelari Abu Bakar Asy Siddiq yang artinya “ Abu (Bapak) dan Bakar (Pagi), gelar Ash Siddiq diberikan kepada beliau karena beliau orang senantiasa membenarkan segala tindakan Rasulullah, terutama dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Abu Bakar merupakan orang yang pertama kali masuk Islam ketika Islam mulai didakwahkan. Baginya, tidaklah sulit untuk mempercayai ajaran yang dibawa Muhammad SAW dikarenakan sejak kecil, ia telah mengenal keagungan Muhammad. Setelah masuk Islam, ia tidak segan untuk menumpahkan segenap jiwa dan harta bendanya untuk Islam.
Pengorbanan Abu Bakar terhadap Islam tidak dapat diragukan. Ia juga pernah ditunjuk Rasul sebagai penggantinya untuk mengimani shalat ketika Nabi sakit. Nabi Muhammad pun meninggal dunia setelah peristiwa tersebut. Tercatat dalam sejarah, dia pernah membela Nabi tatkala Nabi disakiti oleh suku Quraish, menemani Rasulullah Hijrah, membantu kaum yang lemah dan memperdekakannya, seperti yang dilakukannya terhadap Bilal, setia dalam setiap peperangan dan lain-lainnya.
Abu Bakar adalah sahabat Rasulullah saw. Pada suatu hari ,dia hendak menemui Rasulullah saw, ketika ketemu dengan Rasulullah saw, dia berkata ”Wahai Abul Qosim (panggilan Nabi), ada apa denganmu, sehingga engkau tidak terlihat di majelis kaummu dan orang -orang menuduh bahwa engkau telah berkata buruk tentang nenek moyangmu dan lain lain lagi? Rosulullah saw bersabda “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah swt dan aku mengajak kamu kepada Allah swt, setelah selesai Rasulullah saw berbicara, Abu Bakar pun langsung masuk Islam. Melihat keislamannya itu beliau gembira sekali, tidak ada seorangpun yang ada di antara kedua gunung di Mekkah yang merasa gembira melebihi kegembiraan beliau. Kemudian Abu Bakar menemui Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Saad bin Abi Waqas, mengajak mereka untuk masuk Islam. Lalu, merekapun masuk Islam. Hari berikutnya Abu bakar menemui Utsman bin Mazhum, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdurarahman bin Auf, Abu Salamah bin Abdul Saad, dan Arqam bin Abil Arqam r.hum, juga mengajak mereka untuk masuk Islam, dan mereka semua juga masuk Islam.
Sedangkan Istrinya Qutaylah bint Abd-al-Uzza tidak menerima Islam sebagai agama sehingga Abu Bakar menceraikannya. Istrinya yang lain, Um Ruman, menjadi Muslimah. Juga semua anaknya kecuali 'Abd Rahman ibn Abi Bakar menerima Islam. Sehingga ia dan 'Abd Rahman berpisah. Masuknya Abu Bakar berpegaruh besar dalam Islam. Teman-teman dekatnya diajak untuk masuk Islam. Mereka yang masuk Islam karena diajak oleh Abu Bakar adalah :
·           Utsman bin Affan (yang akan menjadi Khalifah ketiga)
·           Al-Zubayr
·           Talhah
·           Abdur Rahman bin Awf
·           Sa`d ibn Abi Waqqas
·           Umar ibn Masoan
·           Abu Ubaidah ibn al-Jarrah
·           Abdullah bin Abdul Asad
·           Abu Salma
·           Khalid bin Sa`id
·           Abu Hudhaifah bin al-Mughirah
Sebagaimana yang juga dialami oleh para pemeluk Islam pada masa awal. Ia juga mengalami penyiksaan yang dilakukan oleh penduduk Mekkah yang mayoritas masih memeluk agama nenek moyang mereka. Namun, penyiksaan terparah dialami oleh mereka yang berasal dari golongan budak. Sementara para pemeluk non budak biasanya masih dilindungi oleh para keluarga dan sahabat mereka, para budak disiksa sekehendak tuannya. Hal ini mendorong Abu Bakar membebaskan para budak tersebut dengan membelinya dari tuannya kemudian memberinya kemerdekaan
Ketika peristiwa Hijrah, saat Nabi Muhammad SAW pindah ke Madinah (622 M), Abu Bakar adalah satu-satunya orang yang menemaninya. Abu Bakar juga terikat dengan Nabi Muhammad secara kekeluargaan. Anak perempuannya, Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad beberapa saat setelah Hijrah.

B.       Abu Bakar Menjadi  Khalifah 
Rasulullah, Sebagai utusan Allah mengemban dua jabatan, yakni sebagai Rasulullah dan sebagai kepala Negara. Jabatan Beliau yang pertama selesai bersamaan dengan wafatnya. Namun jabatan kedua perlu ada penggantinya,  Belum lagi Rasulullah dikebumikan disebuah tempat yang bernama “Saqifah bani Sa’idah telah terjadi perselisihan pendapat antara golongan Anshor dan golongan muhajirintentang pengganti rasul dalam pemerintahan. Ketika Rasulullah wafat, beliau tidak berpesan mengenai siapa yang jadi penggantinya kelak, pada saat Nabi belum dimakamkan di antara umat Islam, ada yang mengusulkan untuk cepat-cepat memikirkan pengganti Rasulullah. Itulah perselisishan pertama yang terjadi pasca rasulullah wafat. Perselisihan tersebut berlanjut ke saqifah (suatu tempat dimadinah yang biasa digunakan oleh kaum Anshar untuk membahas suatu masalah).
Aturan-aturan yang jelas tentang pengganti Rasulullah tidak ditemukan, yang ada hanyalah sebuah mandat yang diterima Abu Bakar menjelang wafat rasulullah untuk menjadi Imam. Sesuatu yang masih merupakan tanda tanya terhadap mendat tersebut. Adakah suatu pertanda Rasulullah menunjuk Abu Bakar atau tidak. Berita perdebatan dua golongan ini kemudian terdengar oleh sahabat-sahabat terkemuka seperti Abu Bakar, Umar Ibn Khattab dan Utsman Ibn Affan yang sedang berada di rumah Rasulullah, sedang sahabat Ali sedang sibuk mengurus jenazah Rasulullah.
Mendegar berita ini akhirnya sahabat Abu bakar dan Umar ibn Khattab sangat terkejut, kemudian keduanya cepat-cepat mendatangi dimana kedua golongan tersebut yang sedang berdebat, untuk itu mereka mendatangi Saqifah Bani Sa’idah. Dalam pertemuan tersebut, golongan Khajraz telah sepakat mencalonkan Salad bin Ubaidah, sebagai pengganti Rasulullah. Akan tetapi, suku Aus belum menjawab atas pandangan tersebut. Ketika perdebatan diantara mereka, Abu bakar berpidato dihadapan mereka dengan mengemukakan kelebihan-kelebihan Anshar dan Golongan Muhajirin, Abu Bakar Mengusulkan agar hadirin memilih salah satu dari sahabat yaitu Umar Ibn Khattab dan Abu Ubaidah, namun keduanya menolak, dan keduanya berkata, “Demi Allah kami tidak akan menerima pekerjaan besar ini selama engkau masih ada , hai Abu bakar...! Engkaulah Orang Muhajirin yang paling mulia, Engkaulah satu-satunya orang yang menyertai Rasulullah di Gua ketika dikejar-kejar oleh orang-orang Quraisy engkaulah satu-satunya orang yang pernah Rasulullah untuk menjadi Imam Shalat waktu Rasulullah Sakit…Untuk itu tengadahkanlah tanganmu wahai Abu Bakar, kami hendak membaiatmu.
Pada awalnya Abu bakar sendiri merasa keberatan, kemudian Umar ibn Khattab memegang tangan Abu bakar sebagai tanda pembaiatan dan diikuti oleh sahabat Abu Ubaidillah, setelah kedua sahabat selesai maka diikuti oleh seluruh sahabat yang ada di Saqifah bani Sa’idah itu baik kaum Muhajirin maupun Anshor. Kemudian Abu Bakar berpidato; “Wahai Manusia! saya telah diangkat untuk mengandalikan urusanmu padahal aku bukanlah orang terbaik diantara kamu , maka jikalau aku menjalankan tugasku dengan baik maka ikutilah aku, tetapi jika aku berbuat salah , maka luruskanlah! orang yang kamu pandang kuat saya pandang lemah, sehingga aku dapat mengambil hak darinya, sedang orang yang kau pandang lemah aku pandang kuat , sehingga aku dapat mengambalikan hak kepadanya. Hendaklah kamu taat kepadaku selama aku Taat kepada Allah dan RasulNya, tetapi bilamana aku tidak mentaati Allah dan rasulnya, kamu tidak perlu mentaatiku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kalian”. Pidato yang diucapkan setelah pengangkatannya menegaskan totalitas kepribadian dan komitmen Abu Bakar terhadap nilai-nilai Islam dan strategi menilai keberhasilan tertinggi bagi umat sepeninggal Nabi.
Dari paparan di atas, terlihat jelas bahwa Abu Bakar dipilih secara aklimasi, walaupun tokoh-tokoh lain tidak ikut membai’atnya, misalnya Ali bin Abi Thalib, Abbas, Thalha, dan Zubair yang menolak dengan hormat. Pembahasan-pembahasan tentang khalifah ini akhirnya menimbulkan berbagai aliran pemikiran Islam. Dengan terpilihnya Abu bakar serta pembai’atannya, resmilah berdiri kekhilafahan pertama di dunia Islam.


C.      Pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq
Sepak terjang pola pemerintahan Abu Bakar dapat dipahami dari pidato Abu Bakar ketika ia di angkat menjadi khalifah seperti yang di atas. Secara lengkaf isi pidatonya sebagai berikut :
“Wahai Manusia! saya telah diangkat untuk mengandalikan urusanmu padahal aku bukanlah orang terbaik diantara kamu, maka jikalau aku menjalankan tugasku dengan baik maka ikutilah aku, tetapi jika aku berbuat salah, maka luruskanlah! orang yang kamu pandang kuat saya pandang lemah, sehingga aku dapat mengambil hak darinya, sedang orang yang kau pandang lemah aku pandang kuat, sehingga aku dapat mengambalikan hak kepadanya. Hendaklah kamu taat kepadaku selama aku Taat kepada Allah dan RasulNya, tetapi bilamana aku tidak mentaati Allah dan rasulnya, kamu tidak perlu mentaatiku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kalian”.
Ucapan yang pertama sekali yang diucapkan oleh Abu Bakar ketika di bai’at, ini menunjukkan garis besar politik dan kebijaksanaan Abu Bakar dalam pemerintahan. Di dalamnya terdapat prinsip kebebasan berpendapat, tuntutan ketataan rakyat, mewujudkan keadilan, dan mendorong masyarakat berjihad, serta shalat sebagai intisari takwa. Secara umum, dapat dikatakan bahwa pemerintahan Abu bakar melanjutkan kepemimpinan sebelumnya, baik kebijaksanaan dalam kenegaraan maupun pengurusan terhadap agama, di antara kebijaksanaannya ialah sebagai berikut :
Ø  Kebijaksanaan pengurusan terhadap Agama
Ada beberapa kebijaksanaan Khalifah Abu Bakar yang menyangkut terhadap Agama antara lain :
1.        Memerangi Nabi palsu,orang-orang yang murtad (Riddah) dan tidak mengeluarkan zakat
Pada awal pemerintahannya, ia diuji dengan adanya ancaman yang datang dari ummat Islam sendiri yang menentang kepemimpinannya. Di antara pertentangan tersebut ialah timbulnya orang-orang yang murtad (kaum Riddah), orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat, orang-orang yang mengaku menjadi Nabi seperti Musailamah Al Kazzab dari bani Hanifah di yamamah, Sajah dari bani Tamim, Al Aswad al Ansi dari yaman dan Thulaihah ibn Khuwailid dari Bani Asad, serta beberapa pemberontakan dari beberapa kabilah
Untuk mengembalikan mereka pada ajaran Islam, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq membentuk sebelas (11) pasukan dengan pemimpinnya masing-masing. Setiap pemimpin pasukan mendapat tugas untuk mengembalikan keamanan dan stabilitas daerah yang ditentukan.  Abu Bakar menyampaikan wasiat kepada pasukan untuk tidak berkhianat, tidak menipu, tidak melampaui batas, tidak mencincang musuh, tidak membunuh anak-anak atau wanita atau orang lanjut usia, tidak memotong kambing atau unta kecuali untuk dimakan. Di antara wasiat yang disampaikan Abu Bakar kepada mereka ialah; “Jika kalian melewati suatu kaum yang secara khusus melakukan ibadah di biara-biara, biarkanlah mereka dan apa yang mereka sembah. ”Pasukan ini dibaginya menjadi sepuluh panji, masing-masing pemegang panji diperintahkan untuk menuju ke suatu daerah. Adapun sebelas panglima dan tugasnya adalah sebagai berikut:
·           Khalid bin Walid diperintahkan untuk memerangi Tulaihah bin Khuwailid yang mengaku sebagai Nabi dan Malik bin Nuwairah yang memimpin pemberontakan dai al-Battah, suatu daerah di Arab tengah.
·           Ikrimah bin Abu Jahal diberi tugas untuk memerangi Musailamah al-Kazzab seorang kepala suku yang mengaku sebagai nabi. Gerakan ini muncul di daerah bani Hanifah yang terletak dipesisir timur Arab (Yamamah).
·           Syurahbil bin Hasanah mendapat tugas membantu Ikrimah, sebagai pasukan cadangan. Jika tugasnya selesai, ia dan tentaranya diperintahkan langsung menuju pusat wilayah Yamamah.
·           Muhajir bin Umayyah diutus untuk  menundukkan sisa-sisa pengikut Aswad al-Ansi (orang yang pertama mengaku sebagai nabi) di Yaman. Selanjutnya ia harus menuju Hadramaut untuk menghadapi pemberontakan yang dipimpin Kais bin Maksyuh di Jazirah Arab selatan.
·           Huzaifah bin Muhsin al-galfani diperintahkan untuk mengamankan daerah Daba yang terletak diwilayah tenggara, dekat Oman sekarang, juga karena pemimpin mereka mengaku Nabi.
·           Arfajah bin Harsamah ditugaskan untuk mengembalikan stabilitas daerah Muhrah dan Oman yang terletak dipantai selatan Jazirah Arabia. Mereka membangkang terhadap Islam dibawa pemimpinan Abu Bakar.
·           Suwaib bin Muqarin diperintahkan untuk mengamankan daerah Tihamah yang terletak sepanjang pantai Laut Merah. Mereka juga membangkang terhadap pimpinan Abu Bakar.
·           Al-Alla’ bin Hadrami mendapat tugas ke daerah kekuasaan kaum Riddah yang yang murtad dari Islam.
·           Amru bin Ash ditugaskan ke wilayah suku Kuda’ah dan Wadi’ah yang terletak di barat laut Jazirah Arabiyah. Mereka juga membelot terhadap kepemimpinan Islam.
·           Khalid bin Sa’id mendapat tugas menghadapi suku-suku besar bangsa Arab yang ada diwilayah tengah bagian utara sampai perbatasan Suriah dan Irak yang juga menunjukkan pembangkangan terhadap Islam.
·           Ma’an bin Hijaz mendapat tugas untuk menghadapi kaum Riddah yang berasal dari suku Salim dan Hawazin di daerah Ta’rif yang membangkan terhadap kepemimpinan Islam
Sementara itu, Abu Bakar sendiri telah siap berangkat memimpin satu pasukan ke Dzil Qishshah, tetapi Ali Rodhiyallahu ‘anhu berkeras untuk mencegah seraya berkata,
“Wahai Khalifah Rasulullah, kuingatkan kepadamu apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Perang Uhud, ‘Sarungkanlah pedangmu dan senangkanlah kami dengan dirimu.’ Demi Allah, jika kaum Muslimin mengalami musibah karena kematianmu, niscaya mereka tidak akan memiliki eksistensi sepeninggalanmu.”
Abu Bakar kemudian kembali dan menyerahkan panji tersebut kepada yang lain. Allah memberikan dukungan kepada kaum Muslimin dalam pertempuran ini, sehingga berhasil menumpas kemurtadan, memantapkan Islam di segenap penjuru Jazirah, dan memaksa semua kabilah untuk membayar zakat.

2.        Pengumpulan Al-Qur’an
Selama peperangan Riddah, banyak dari penghafal Al-Qur’an yang tewas. Karena orang-orang ini merupakan penghafal bagian-bagian Al-Qur’an, Umar cemas jika bertambah lagi angka kematian itu, yang berarti beberapa bagian lagi dari Al-Qur’an akan musnah. Karena itu, menasehati Abu Bakar untuk membuat suatu “kumpulan” Al-Qur’an kemudian ia memberikan persetujuan dan menugaskan Zaid ibn Tsabit karena beliau paling bagus Hafalannya. Para ahli sejarah menyebutkan bahwa pengumpulan Al-Qur’an ini termasuk salah satu jasa besar dari khalifah Abu Bakar.

3.        Ilmu Pengetahuan
Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada masa Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya. Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan, dan lain sebagainya. Menurut Ahmad Syalabi lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan Kuttab. Kuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, selanjutnya Asama Hasan Fahmi mengatakan bahwa Kuttab didirikan oleh orang-orang Arab pada masa Abu Bakar dan pusat pembelajaran pada masa ini adalah Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah para sahabat Rasul terdekat.
Lembaga pendidikan Islam masjid, masjid dijadikan sebagai benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan, dan lembaga pendidikan Islam, sebagai tempat shalat berjama’ah, membaca Al-qur’an dan lain sebagainya

Ø  Kebijaksanaan Kenegaraan
Suyuthi Pulungan ada beberapa kebijaksanaan Abu Bakar dalam pemerintahan atau kenegaraan, yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1.      Bidang eksekutif
Pendelegasian terhadap tugas-tugas pemerintahan di Madinah maupun daerah. Misalnya untuk pemerintahan pusat menunjuk Ali bin Abi Thalib, Ustman bin Affan, dan Zaid bin tsabit sebagai sekretaris dan Abu Ubaidah sebagai bendaharawan. Serta Umar bin Khathab sebagai hakim Agung. Untuk daerah kekuasaan Islam, dibentuklah provinsi-provinsi, dan untuk setiap provinsi ditunjuk seorang amir. Antara lain ;
·      Itab bin Asid menjadi Amir dikota Mekkah, amir yang diangkat pada masa Nabi
·      Ustman bin Abi Al-Ash, amir untuk kota Thaif, diangkat pada masa nabi
·      Al-Muhajir bin Abi Umayyah, amir untuk San’a
·      Ziad bin Labid, amir untuk Hadramaut
·      Ya’la bin Umayyah, amir untuk khaulan
·      Abu Musa Al-Ansyari, amir untuk zubaid dan rima’
·      Muaz bin Jabal, Amir untuk Al-Janad
·      Jarir bin Abdullah, amir untuk Najran
·      Abdullah bin Tsur, amir untuk Jarasy
·      Al-Ula bin hadrami, amir untuk Bahrain, sedangakn untuk Iraq dan Syam (Syria) dipercayakan kepada para pemimpin Militer
Para Amir tersebut bertugas sebagai pemimpin agama, juga menetapkan hukum dan melaksanakan undang-undang. Artinya seorang amir di samping sebagai ppemimpin agama, juga sebagai hakim dan pelaksana tugas kepolisian. Namun demikian, setiap amir diberi hak untuk mengangkat pembantu-pembantunya, seperti katib, amil, dan sebagainya.

2.      Pertahanan dan Keamanan
Dengan mengorganisasikan pasukan-pasukan yang ada untuk mempertahankan eksistensi keagamaan dan pemerintahan. Pasukan itu disebarkan untuk memelihara stabilitas di dalam maupun di luar negeri. Di antara panglima yang ditunjuk adalah Khalid bin Walid, Musanna bin Harisah, Amr bin ‘Ash, Zaid bin Sufyan, dan lain-lain.

3.      Yudikatif
Fungsi kehakiman dilaksanakan oleh Umar bin Khathab dan selama masa pemerintahan Abu bakar tidak ditemukan suatu permasalahan yang berarti untuk dipecahkan. Hal ini karena kemampuan dan sifat Umar sendiri, dan masyarakat dikala itu dikenal ‘alim.

4.      Sosial Ekonomi
Sebuah lembaga mirip Bait Al-Mal, di dalamnya dikelola harta benda yang didapat dari zakat, infak, sedekah, harta rampasan, dan lain-lain. Penggunaan harta tersebut digunakan untuk gaji pegawai negara dan untuk kesejahteraan ummat sesuai dengan aturan yang ada.
Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa pengangkatan khalifah dilakukan secara musyawarah dengan aklamasi menerima dan mengangkat Abu bakar. Allah sendiri berfirman :
“Dan bagi orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) denngan musyawarah antara mereka, dan mereka menafkahkan sebagaian dari rizki yang kami berikan kepada mereka”
Jadi dapat disimpulkan bahwa khalifah Abu bakar diangkat menjadi Khalifah dengan jalan Musyawarah, walaupun diantara Sahabat ada yang tidak ikut dalam pembai’atan dan pada akhirnya mereka melakukan sumpah setia. Dengan demikian, secara nyata, pengangkatan Abu bakar sebagai khalifah disetujui.

D.    Penyebaran dan Kekuasaan Islam pada Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq
Islam pada hakikatnya adalah agama dakwah, artinya agama yang harus dikembangkan dan didakwahkan. Terdapat dua pola pengembangan wilayah Islam, yaitu dengan dakwah dan perang. Setelah dapat mengembalikan stabilitas keamanan jazirah Arabiah, Abu Bakar beralih pada permasalahan luar negeri. Pada masa itu, di luar kekuasaan Islam terdapat dua kekuatan adidaya yang dinilai dapat menganggu keberadaan Islam, baik secara politisi maupun agama. Kedua kerajaan itu adalah Persia dan Romawi. Rasulullah sendiri memerintahkan tentara Islam untuk memerangi orang-orang Ghassan dan Romawi, karena sikap mereka sangat membahayakan bagi Islam. Mereka berusaha melenyapkan dan menghambat perkembangan Islam dengan cara membunuh sahabat Nabi. Dengan demikian cikal bakal perang yang dilakukan oleh ummat Islam setuju untuk berperang demi mempertahankan Islam.
Pada tahap pertama, Abu Bakar terlebih dahulu menaklukkan persia. Pada bulan Muharram tahun 12 H (6333 M), ekspedisi ke luar Jazirah Arabia di mulai. Musanna dan pasukannya dikirim ke persia menghadapi perlawanan sengit dari tentara kerajaan Persia. Mengetahui hal itu, Abu Bakar segera memerintahkan Khalid bin Walid yang sedang berada di Yamamah untuk membawa pasukannya membantu Musanna. Gabungan kedua pasukan ini segera bergerak menuju wilayah persia. Kota Ubullah yang terletak di pantai teluk Persia, segera duserbu. Pasukan Persia berhasil diporak-porandakan. Perang ini dalam sejarah Islam disebut dengan Mauqi’ah Zat as-Salasil artinya peristiwa untaian Ranta
Pada tahap kedua, Abu Bakar berupaya menaklukkan Kerajaan Romawi dengan membentuk empat barisan pasukan. Masing-masing kelompok dipimpin seorang panglima dengan tugas menundukkan daerah yang telah ditentukan. Kempat kelompok tentara dan panglimanya itu adalah sebagai berikut :
·           Abu Ubaidah bin Jarrah bertugas di daerah Homs, Suriah Utara, dan Antiokia
·           Amru bin Ash mendapat perintah untuk menaklukkan wilayah Palestina yang saat itu berada di bawah kekuasaan Romawi Timur.
·           Syurahbil bin Sufyan diberi wewenang menaundukkan Tabuk dan Yordania
·           Yazid bin Abu Sufyan mendapat perintah untuk menaklukkan Damaskus dan Suriah Selatan
·           Perjuangan tentara-tentara Muslim tersebut untuk menaklukkan Persia dan Romawi baru tuntas pada mas ke khalifaan Umar bin khathab

E.       Peradaban Pada Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq
Bentuk peradaban yang paling besar dan luar biasa dan merupakan satu kerja besar yang dilakukan pada masa pemerintahan Abu Bakar adalah penghimpunan Al-Qur’an. Abu Bakar Ash-Shiddiq memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk menghimpun Al-Qur’an dari pelepah kurma, kulit binatang, dan dari hapalan kaum muslimin. Hal yang dilakukan sebagai usaha untuk menjaga kelestarian Al-Qur’an setelah Syahidnya beberapa orang penghapal Al-Qur’an pada perang Yamamah. Umarlah yang mengusulkan pertama kainya penghimpunan ini. Sejak saat itulah Al-Qur’an dikumpulkan pada satu Mushaf.
Selain itu, peradaban Islam yang terjadi pada praktik pemerintahan Abu Bakar terbagi pada beberapa Tahapan, yaitu sebagai berikut :
·           Dalam bidang penataan sosial ekonomi adalah mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial masyarakat. Untuk kemaslahatan rakyat ini, ia mengelola zakat, infak, dan sedekah yang berasal dari kaum muslimin, serta harta ghanimah yang dihasilkan dari rampasan perang dan jizyah dari warga negara non-muslim, sebagai sumber pendapatan baitul Mal. Penghasilan yang diperoleh dari sumber-sumber pendapatan negara ini dibagikan untuk kesejahteraan para tentara, gaji para pegawai negara, dan kepada rakyat yang berhaq menerimanya sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an.
·           Praktik pemerintahan khalifah Abu Bakar yang terpenting adalah suksesi kepemimpinan atas inisiatifnya sendiri dengan menunjuk umar sebagai penggantinya. Ada beberapa faktor Abu Bakar menunjuk atau mencalonkan Umar menjadi Khalifah. Faktor utama adalah kekhawatiran akan terulang kembali peristiwa yang sangat menegangkan di Tsaqilah Bani Saidah yang nyaris menyulut umat Islam kejurang perpecahan, bila tidak merujuk seorang untuk menggantikannya
Dari penunjukan Umar tersebut, ada beberapa hal yang perlu dicatat :
·           Abu Bakar dalam menunjuk Umar tidak meninggalkan asa musyawarah. Ia lebih dahulu mengadakan konsultasi untuk mengetahui aspirasi rakyat melalui tokoh-tokoh kaum muslimin
·           Abu Bakar tidak menunjuk salah seorang putranya ataupun kerabatnya, melainkan memilih seorang yang mempunyai nama dan mendapat tempat dihati masyarakat serta disegani oleh rakyat karena sifat-sifat terpuji yang dimilikinya.
·           Pengukuhan Umar menjadi khilafah sepeninggal Abu Bakar berjalan dengan baik dalam suatu baiat umum dan terbuka tanpa ada pertentangan di kalangan kaum muslimin.

F.       Wasiat Abu Bakar terhadap Umar bin Khathab
Setelah mengetahui kesepakatan semua orang atas penunjukan Umar sebagai pengganti, Abu Bakar memanggil Utsman bin Affan untuk menuliskan surat tersebut, adapun wasiat tersebut berbunyi :
“Bismillahirrahmanirrahim. Berikut ini adalah wasiat Abu Bakar, Khalifah Rasulullah, pada akhir kehidupannya di dunia dan awal kehidupannya di akhirat, di mana orang kafir akan beriman dan orang fajir akan yakin. Sesungguhnya. aku telah mengangkat Umar ibnul Khaththab untuk memimpin kalian. Jika dia bersabar dan berlaku adil. itulah yang kuketahui tentang dia dan pendapatku tentang dirinya. Ketika dia menyimpang dan berubah, aku tidak mengetahui hal yang ghaib. Kebaikanlah yang aku inginkan bagi setiap apa yang telah diupayakan. Orang-orang yang zhalim akan mengetahui apa nasib yang akan ditemuinya.”
Abu Bakar menstempelnya. Surat wasiat ini lalu dibawa keluar oleh Utsman untuk dibacakan kepada khalayak ramai. Mereka pun membaiat Umar ibnul Khaththab. Peristiwa ini berlangsung pada bulan Jumadil Akhir tahun ke-13 Hijriah.

G.      Wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq
Pada akhir minggu pertama Jumadil Akhir tahun 13 Hijriah Abu Bakar jatuh sakit. Pada musim dingin hari itu, Abu Bakar mandi, lalu ia terserang demam yang sangat berat. Ia pun sadar bahwa penyakitnya itu akan membawa maut. Ia ditawari untuk dipanggilkan dokter, tapi ia menjawab, “Dia telah melihatku dan berkata, “Aku pembuat sekendakku”.
Dalam sakitnya ia berwasiat kepada Aisyah supaya dikafani dengan dua helai kain bersih yang biasa ia pakai bersembahyang. Ketika Aisyah menawarkan hendak mengkafaninya dengan kain biru, ia berkata, “orang yang hidup lebih memerlukan yang baru daripada yang sudah mati, kapan itu hanya buat cacing dan tanah”. Setelah 15 hari lamanya menderita penyakit itu, wafatlah Abu Bakar Ash-Shiddiq pada 21 bulan Jumadil Akhir tahun 13 Hijriyah, bertepatan tanggal 22 Agustus tahun 634 M. Lamanya memerintah 2 tahun 3 bulan 10 hari, dikebumikan di kamar Aisyah di samping makan Sahabatnya yang mulia rasulullah Saw.


BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Dari uraian sejarah singkat tentang Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ada beberapa ‘Ibrah yang dapat diambil. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar Rodhiyallahu ‘anhu tersebut menunjukkan sejumlah hal dan prinsip, di antaranya:
Ø  Pengangkatan Khilafah Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu berlangsung melalui syura. Semua Ahlul Halli wal-’Aqdi dari kalangan sahabat termasuk di dalamnya Ali Radhiyallahu ‘anhu ikut serta dalam pengambilan keputusan ini. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun nash al-Qur’an atau Sunnah yang menegaskan hak khalifah kepada seseorang sepeninggal Rasulullah Saw. Seandainya ada nash yang menegaskannya, niscaya tidak akan ada syura untuk menentukannya dan para sahabat tidak akan berani melangkahi apa yang ditegaskan oleh nash tersebut
Ø  Perbedaan pendapat yang terjadi di Saqifah bani Sa’idah antar para tokoh sahabat, dalam rangka memusyawarahkan pemilihan khalifah, merupakan hal lumrah yang menjadi tuntutan pembahasan suatu permasalahan. Hal ini bahkan menjadi bukti nyata atas perlindungan Pembuat syariat (Allah) terhadap beraneka pendapat dan pandangan dari segala bentuk pelarangan dan pembatasan, selama menyangkut masalah yang tidak dinyatakan secara tegas dan gamblang oleh nash. Jalan untuk mencapai kebenaran tentang setiap masalah yang didiamkan oleh Pembuat syariat ialah dengan mengemukakan berbagai pandangan dan membahas semuanya dengan objektif, bebas, dan jujur. Musibah yang dihadapi kaum Muslimin saat itu sangat besar dan persoalannya pun sangat pelik. Seandainya para sahabat tidak menemukan satu pilihan (calon tunggal) yang ditawarkan untuk divoting kemudian disepakati, niscaya hal tersebut merupakan syura palsu dan kesepakatan yang dipaksakan dari luar.
Ø  Nasihat Ali Radhiyallahu ‘anhu kepada Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu agar tidak ikut terjun memerangi kaum murtad. Ali mengkhawatirkan kaum Muslimin jika beliau terbunuh. Hal ini menjadi bukti nyata atas kecintaan Ali Radhiyallahu ‘anhu yang sangat mendalam terhadap Abu Bakar. Merupakan bukti nyata pula bahwa Ali telah sepenuhnya menerima Khalifah Abu Bakar dan kelayakannya untuk memimpin kaum Muslimin.
Ø  Setiap Muslim yang merenungkan sikap yang diambil oleh Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu terhadap kabilah-kabilah yang murtad dan tekad yang begitu kuat untuk memerangi kabilah-kabilah tersebut sehingga berhasil meyakinkan semua sahabat yang pada mulanya tidak bersedia melakukannya, niscaya akan meyakini adanya hikmah Allah yang telah mengangkat orang yang sesuai dan untuk menghadapi tugas yang sesuai pula. Siapa pun di antara kita hampir tidak dapat membayangkan bahwa di kalangan sahabat ada orang yang lebih patut dari Abu Bakar untuk menghentikan badai (kemurtadan) tersebut dan mengembalikannya ke pangkuan Islam.
Ø  Para ahli sejarah menyebutkan bahwa pengumpulan Al-Qur’an ini termasuk salah satu jasa besar dari khalifah Abu Bakar. Selama peperangan Riddah, banyak dari penghafal Al-Qur’an yang tewas. Karena orang-orang ini merupakan penghafal bagian-bagian Al-Qur’an, Umar cemas jika bertambah lagi angka kematian itu, yang berarti beberapa bagian lagi dari Al-Qur’an akan musnah. Karena itu, menasehati Abu Bakar untuk membuat suatu “kumpulan” Al-Qur’an kemudian ia memberikan persetujuan dan menugaskan Zaid ibn Tsabit karena beliau paling bagus Hafalannya.
Ø  Setelah dapat mengembalikan stabilitas keamanan jazirah Arabiah, Abu Bakar beralih pada permasalahan luar negeri. Pada masa itu, di luar kekuasaan Islam terdapat dua kekuatan adidaya yang dinilai dapat menganggu keberadaan Islam, baik secara politisi maupun agama. Kedua kerajaan itu adalah Persia dan Romawi. Rasulullah sendiri memerintahkan tentara Islam untuk memerangi orang-orang Ghassan dan Romawi, karena sikap mereka sangat membahayakan bagi Islam. Mereka berusaha melenyapkan dan menghambat perkembangan Islam dengan cara membunuh sahabat Nabi. Dengan demikian cikal bakal perang yang dilakukan oleh ummat Islam setuju untuk berperang demi mempertahankan Islam
Ø  Pengukuhan imamah tidak dapat diakui sah kecuali setelah mengemukakan kepada kaum Muslimin kemudian pernyataan ridha dari kaum Muslimin terhadap imamah yang telah diwasiatkan tersebut. Jadi, ditetapkannya imamah hanyalah dengan keridhaan tersebut. Yakni, seandainya Abu Bakar mewasiatkan khalifah kepada Umar, tetapi kaum Muslimin tidak meridhainya, wasiat tersebut tidak ada nilainya.






























DAFTAR PUSTAKA