Selasa, 14 Januari 2014

Nenek Moyang Bangsa Jepang

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Jepang adalah suatu Negara kepulauan dengan pulau-pulau besar dan kecil. Yang mempunyai sejarah unik diantaranya asal usul bangsa jepang yang begitu menarik untuk dibicarakan. Orang Jepang termasuk bangsa tertua di dunia. Manusia telah hidup di sana sejak sekitar 30000 SM. Jepang klasik terbentuk sekitar tahun 300 SM. Namun yang lebih dibanggakan orang Jepang adalah bahwa kerajaannya merupakan satu kesatuan Negara yang berlangsung secara kontinu dan paling ama diantara bangsa-bangsa di dunia.

B.       Rumusan Masalah
1.      Siapa nenek moyang bangsa Jepang sesungguhnya?

C.      Tujuan
1.    Mengetahui nenek moyang bangsa Jepang sesungguhnya.




BAB II
PEMBAHASAN


A.      ASAL USUL BANGSA JEPANG
Dunia berawal di Takamanohara, di sama lahir berbagai kami seperti Kotoamatsukami dan Kaminoyonanayo. Kami yang lahir paling akhir adalah dua bersaudara Izanagi dan Izanami.
Orang Jepang termasuk bangsa tertua di dunia. Manusia telah hidup di sana sejak sekitar 30000 SM. Jepang klasik terbentuk sekitar tahun 300 SM. Namun yang lebih dibanggakan orang Jepang adalah bahwa kerajaannya merupakan satu kesatuan Negara yang berlangsung secara kontinu dan paling lama diantara bangsa-bangsa di dunia.
Pada zaman purba, Jepang dihuni oleh orang Ainu atau Ezo. Orang Ainu merupakan bangsa unik dan tidak memiliki hubungan dengan suku manapun. Orang Jepang modern pindah ke kepulauan ini pada zaman prasejarah dari Korea dan Manchuria di daratan Asia. Mereka mendesak orang Ainu sehingga pindah ke pulau paling utara, Hokkaido.
Kita melihat bahwa orang Jepang yang sekarang adalah hasil dari perpaduan berbagai ras yang berimigerasi ke Jepang, sehinga tidak diketahui siapa yang merupakan betul-betul ras asli Jepang. Yang paling awal diketahui di Jepang adalah Ainu, yang mempunyai hubungan dengan ras Kaukasia, dan karena itu mungkin sekali bukan penduduk asli. Kemudian bergerak ke Jepang ras yang berasal dari Asia Selatan, yaitu Polinesia – Melanesia. Masuk pula ras Cina dari daratan Cina dan ras Mongol melalui Korea. Dan ada pula yang masuk dari Siberia yang berbeda dari kaum Mongol.
Boleh dikatakan, lima sumber ini menjadi asal bangsa dan orang Jepang yang kemudian. Kendatipun demikian, dalam percakapan umumnya, orang Jepang merasa dari dua sumber, yaitu Cina dan Asia Tenggara. Dengan begitu, ia mungkin menyatukan sumber Mongol dan Siberia menjadi satu dengan sumber Cina yang sebetulnya secara ras berbeda sekali. Dan juga menunjukan bahwa ia tidak merasa berasal dari kaum Ainu. Yang meskipun didesak ke utara oleh mereka yang berasal dari selatan dan barat tetapi turut membentuk penduduk Jepang. Tetapi, meskipun rakyat Jepang berasal dari lima sumber, dalam perkembangan sejarahnya ia telah menjadi satu bangsa yang homogeny. Ia pun berkembang berbeda sama sekali dengan bangsa-bangsa yang menjadi sumbernya, baik mereka yang di Asia Tenggara maupun di daratan Asia. Kalaupun sekarang masih ada pengaruh dari sumber keturunannya, makahal itu hanya tampak pada bentuk jasmaniahnya saja, di mana ada sebagian dari rakyat Jepang yang mirip orang Asia Tenggara dan ada pula yang mirip orang daratan Asia. Ataupun pada sikap mereka yang merasa dekat dengan orang Asia Tenggara atau Cina.
Dengan didahului oleh periode Jomon yang ditandai oleh pembuatan pot atau kuali (pottery) Yang diberi tali-temali pada wajah luarnya, dan periode Yayoi yang mulai timbul pada abad ke-3 S.M. yang telah memperkenakan penanaman padi dengan irigasi, maka kita melihat terbentuknya kerajaan Yamato. Di daam buku-buku sejarah Jepang, Kojiki (diperkirakan ditulis pada tahun 712) dan Nihonshoki (ditulis pada ahun 720 di bawah pimpinan pejabat resmi), tercantum sumber-sumber terjadinya kerajaan Jepang. Mitos ini menggambarkan kepulauan Jepang berasal dari dewa Izanami dan dewi Izanagi, serta dewa-dewa Takamagahara. Di antara dewa-dewa Takamagahara, yang terpenting adalah Amaterasu Omikami, (dewi matahari) dan kakaknya, Susano-o-no-mikoto (dewa taufan).
Menurut mitos Jepang, Ninigo-no-mikoto, cucu Amatrasu Omikami, turun ke bumi di Kyushu (pulau di barat daya di Jepang) untuk memerintah umat manusia. Untuk itu ia dilengkapi dengan tiga benda suci sebagai lambing kekuasaan, yaitu kalung, kaca dan pedang. Tiga benda suci itu hingga kini masih dipakai oleh setiap Tenno Heika sebagai tanda kekuasaannya, dan sebagai warisan dari sumber kedewaanyya. Cucu Ninigo-no-mikoto pergi ke Yamato, tanah datar di pulau Honshu yang terletak di sebelah timur laut Kyushu. Disana ia membangun kekuasaanya dan kemudian disebut Jimmu Tenno. Menurut kepercayaan Jepang, sejak Jimmu Tenno, melalui berbagai Tenno, hingga Tenno Heika yang sekarang, terdapat gari keturunan yang tak terputus. Izanagi-no-kami dan Izanami-no-kami yang lebih dikenal dengan nama Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto inilah yang kemudian melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi nenek moyang kaisar Jepang Kemudian Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto turun ke Onogoro shima dan mendirikan sebuah pilar yang besar serta sebuah istana yang luas. Di pulau ini keduanya bermaksud untuk menciptakan kelahiran. Lalu Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto sepakat untuk menikah

Ø  Izanagi dan Izanami

Izanagi dan Izanami turun di Ashihara no Nakatsu Kuni, menikah, dan berturut-turut melahirkan pulau-pulau yang membentuk kepulauan Jepang yang disebut Yashima. Setelah melahirkan berbagai kami, Izanami tewas akibat luka bakar saat melahirkan Kagutsuchi (dewa api). Setelah membunuh Kagutsuchi, Izanagi pergi ke negeri Yomi untuk mencari dan menyelamatkan Izanami. Setelah berada di negeri Yomi, wujud Izanami berubah menjadi menakutkan. Izanagi yang melihat sosok Izanami menjadi lari ketakutan.
Izanagi menjalani misogi (mandi) karena tidak suka dengan kekotoran (kegare) yang terbawa dari Yomi. Ketika melakukan misogi, Izanagi melahirkan pula sejumlah kami, saat mencuci mata kiri terlahir Amaterasu (dewa matahari, penguasa Takamanohara), saat mencuci mata kanan terlahir Tsukuyomi (dewa bulan, penguasa malam), dan saat mencuci hidung lahir Susanoo (penguasa samudra). Ketiga kami ini disebut Mihashira no Uzu no Miko, dan menerima perintah dari Izanagi untuk menguasai dunia.

Ø  Amaterasu dan Susanoo

Susanoo ingin pergi ke tempat Izanami di Ne no Kuni dan berteriak-teriak menangis hingga membuat kerusakan luar biasa di langit dan bumi. Susanoo akhirnya pergi naik ke Takamanohara yang diperintah Amaterasu. Kedatangan Susanoo salah dimengerti, Amaterasu menyangka Susanoo datang untuk merebut Takamanohara. Susanoo disambut Amaterasu dengan busur dan anak panah. Agar kecurigaan Amaterasu terhapus, dari setiap benda yang menempel di badan Susanoo lahir kami yang jenis kelaminnya membuktikan kemurnian tubuh Susanoo. Amaterasu percaya dan mengizinkan Susanoo berada di Takamanohara. Di sana Susanoo membuat keonaran lagi sampai Amaterasu bersembunyi di dalam gua Ama no Iwato. Amaterasu adalah dewa matahari, sehingga matahari tidak terbit selama Amaterasu bersembunyi. Para kami di Takamanohara menjadi susah hati. Amaterasu akhirnya keluar dari dalam gua setelah dikelabui. Susanoo yang sering membuat susah akhirnya diusir ke dunia bawah.

Ø  Legenda Izumo

Susanno turun ke negeri Izumo. Setelah berhasil membunuh monster Yamata no Orochi yang suka merusak, Susanoo menikah dengan putri Kunitsukami. Cucu keturunan Susanoo bernamaOokuninushi menikah dengan putri Susanoo dan membangun negeri Sukunahikona dan Ashihara no Nakatsukuni. Menurut penjelasan nama tempat yang ada di buku Fudoki negeri Izumo, lokasi pembasmian Yamata no Orochi ada di distrik Ou (sekarang kota Yasugi, Prefektur Shimane), tapi bukan Susanoo yang menjadi pahlawan, melainkan Oonamuchi (Ookuninushi).

Ø  Penaklukan Ashihara no Nakatsu

Semeentara itu, Amaterasu dan para kami di Takamanohara menyatakan negeri Ashihara no Nakatsu no Kuni (Izumo) harus diperintah Amatsukami atau cucu keturunan Amaterasu. Sejumlah kami dikirim ke Izumo untuk mewujudkan keinginan  ini. Setelah dua anak Ookuninushi, Kotoshironushi dan Takeminakata menitis ke Amaterasu o mi kami, Ookuninushi berjanji untuk memberikan negeri Izumo dengan syarat dibangunkan sebuah istana. Istana ini nantinya disebut Izumo Taisha. Ninigi yang merupakan cucu Amaterasu menerima Ashihara no Nakatsu. Ninigi turun ke negeri Hyūga dan kemudian menikahi Putri Konohanasakuya.

Ø  Kisah Hoori dan Hoderi

Ninigi memiliki dua putera, Hoori dan Hoderi. Mata pancing milik Hoderi dihilangkan Hoori sehingga kedua bersaudara ini bertengkar. Hoori lalu pergi ke istana Kaijin (dewa laut) dan menemukan mata pancing Hoderi di sana. Sewaktu berada di sana, Hoori menikah dengan putri dewa laut. Dari pernikahan ini lahir anak laki-laki bernama Ugaya Fukiaezu. Putra keturunan Ugaya Fukiaezu yang bernama Kamuyamato Iwarehito nantinya menjadi Kaisar Jimmu.

Ø  Kaisar Jimmu

Kaisar Jimmu (神武天皇 Jimmu Tennō?) (711 SM - 585 SM) adalah kaisar Jepang yang pertama, bertahta dari tahun 1 bulan 1 hari 1 (bulan 2 hari 11 660 SM) hingga tahun 76 bulan 3 hari 11 era Kaisar Jimmu). Nama kaisar ini sama dengan nama kaisar Jepang pertama seperti dikisahkan dalam mitologi Jepang menurut Kojiki dan Nihon Shoki.
Kamuyamato iwarehito dan kakak-kakaknya berkeinginan menguasai Yamato. Penduduk yang sejak dulu berdiam wilayah Yamato melawan dengan sekuat tenaga, dan pertempuran sengit terjadi. Kesaktian Kamuyamato Iwarehiko yang masih keturunan dewa bukan tandingan bagi penduduk Yamato. Pada akhirnya, Kamuyamato Iwarehiko naik tahta sebagai kaisar di kaki gunungUnebikashihara no Miya. Kamuyamato Iwarehiko nantinya dikenal sebagai kaisar pertama Jepang Kaisar Jimmu.

Ø  Kesshi Hachi-dai

Delapan kaisar, termasuk kaisar kedua Kaisar Suizei hingga kaisar ke-9 Kaisar Kaika disebut sebagai Kesshi Hachi-dai. Kedelapan nama kaisar tertulis dalam Kojiki dan Nihon-shoki, tapi tidak dijelaskan peran dan jasa-jasanya.

Pada waktu terjadinya surga dan bumi, terdapat 3 dewa tunggal (dewa yang tidak mempunyai pasangan) yang dianggap sebagai dewa permulaan. Adapun ke 3 dewa tersebut adalah sebagai berikut :
a. Ame-no-minaka-nushi-no-kami
b. Taka-mi-musuhi-no-kami
c. Kamu-musuhi-no-kami

              Izanagi-no-kami dan Izanami-no-kami yang lebih dikenal dengan nama Izanagi-no mikoto dan Izanami-no-mikoto inilah yang kemudian melahirkan keturunan-keturunan yang menjadi nenek moyang kaisar Jepang.
Dewa-dewa surga kemudian memerintahkan Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto untuk menyempurnakan dan menjadikan keras penumpukan daratan yang masih menyerupai ubur-ubur. Sebagai alat untuk melaksanakan tugas mereka, maka dewa-dewa surga memberikan sebuah tombak pada Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto. Sebelum turun dari surga, Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto berdiri di jembatan gantung surga dan mengaduk-aduk daratan dengan tombak yang mereka terima dari dewa-dewa surga. Pada waktu mereka mengangkat tombak itu, dari ujung tombak menetes cairan. Semakin lama cairan yang menetes tersebut semakin banyak dan bertumpuk. Akhirnya tumpukan cairan itu mmenjadi suatu pulau yangdisebut,Onogoroshima.
             Kemudian Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto turun ke Onogoro shima dan mendirikan sebuah pilar yang besar serta sebuah istana yang luas. Di pulau ini keduanya bermaksud untuk menciptakan kelahiran. Lalu Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto sepakat untuk menikah dan berjalan mengelilingi pilar besar itu. Maka mulailah mereka mengelilingi pilar tersebut. Izanagi-no-mikoto berjalan memutar dari kiri ke kanan. Sedangkan Izanami-no-mikoto berjalan memutar dari arah yang berlawanan, yaitu dari kanan ke kiri. Pada waktu keduanya bertemu Izanami-no-mikoto terlebih dahulu berseru memuji ketampanan Izanagi-no-mikoto. Setelah itu barulah Izanagi-no-mikoto yang berseru memuji kecantikan Izanami-no-mikoto.
             Dari pernikahan Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto ini lahirlah seorang anak yang cacat, tidak bisa berjalan. Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto kemudian menghanyutkan anak yang cacat tersebut karena dianggap tidak baik. Kemudian Izanami-no-mikoto melahirkan sebuah pulau yang disebut Awa-shima. Meskipun terjadi dari pernikahan Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto anak yang dilahirkan cacat dan Awa-shima ini tidak diperhitungkan sebagai anak mereka karena dianggap tidak sempurna. Maka kemudian Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto kembali ke surga dan melaporkan hal tersebut kepada dewa-dewa surga.
              Kemudian para dewa surga memberi petunjuk pada keduanya supaya laki-laki dahulu yang menyapa perempuan. Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto lalu kembali ke Onogoro shima dan berusaha melaksanakan petunjuk dari dewa-dewa surga. Izanagi-no-mikoto berjalan memutar dari kiri ke kanan dan Izanami-no-mikoto dari kanan ke kiri. Pada waktu bertemu Izanagi-no-mikoto menyapa terlebih dahulu. Setelah itu disusul Izanami-no-mikoto yang menyapa. Pertemuan mereka ini menghasilkan sebuah pulau yaitu Awaji-no-ho-no-sa-wake-no-shima. Pulau ini mulai diperhitungkan sebagai anak Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto.
               Setelah menghasilkan pulau ini, berturut-turut Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto menghasilkan pulau-pulau lain yang dianggap sebagai keturunan mereka Setelah menghasilkan pulau-pulau tersebut, barulah Izanami-no-mikoto melahirkan dewa-dewa. Sebelum Izanami-no-mikoto meninggal, ia telah melahirkan sebanyak 35 dewa. Dewa terakhir yang dilahirkan oleh Izanami-no-mikoto adalah Hi-no-kagu-tsuchi-no-kami (dewa api).
               Setelah melahirkan dewa ini alat kelamin Izanami-no-mikoto terbakar sehingga jatuh sakit. Akhirnya Izanami-no-mikoto meninggal dunia. Karena dianggap sebagai penyebab kematian Izanami-no-mikoto, maka Izanagi-no-mikoto memenggal kepala Hi-no-kagu-tsuchi-no-kami. Tetesan darah yang ada di ujung pedang kemudian menjelma menjadi dewa-dewa yang berjumlah 8 dewa. Bagian tubuh Hi-no-kagu-tsuchi-no-kami yang telah mati juga menjelma menjadi dewa-dewa sebanyak 8 dewa. Setelah itu Izanagi-no-mikoto menyusul istrinya ke Yomi-no-kuni yang merupakan tempat orang-orang yang telah mati. Akan tetapi saat ia melihat bagian tubuh istrinya yang banyak dimakan belatung-belatung, Izanagi-no-mikoto ketakutan, dan melarikan diri.
              BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulannya adalah bangsa Jepang percaya, bahwa asal-usul nenek moyang bangsa Jepang adalah Amaterasu omikami atau dewi matahari, ia adalah keturunan dari Izanagi-no-mikoto dan Izanami-no-mikoto. Lalu Ninigi-no-Mikoto dalam mitologi Jepang adalah cucu dari Amaterasu omikami, yang dikirim ke bumi, dia adalah kakek-besar Kaisar Jimmu. Dan sampai sekarang tahta diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.























      DAFTAR PUSTAKA

·         Sayidiman Suryohadiprojo. 1987. Belajar Dari Jepang Manusia dan Masyarakat Jepang dalam Perjoangan Hidup. Jakarta: UI Press

·         http://id.wikipedia.org/wiki/Kaisar_Jimmu



Tidak ada komentar:

Posting Komentar