PERGERAKAN
NASIONAL SAMPAI KEMERDEKAAN INDONESIA
SEJARAH INDONESIA BARU
Dosen : Drs. Sudartoyo
Disusun oleh:
Mufid Fareza
(12144400006)
Kelas: A1-2012
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2014
PERGERAKAN NASIONAL
A. Perbedaan Gerakan Bangsa Indonesia Sebelum dan
Sesudah tahun 1900.
a) Gerakan
Bangsa Indonesia Sebelum 1900
Reaksi perlawanan terhadap penjajahan Belanda:
1. Perlawanan
lokal (kedaerahan)
2. Perlawanan
negatif:
a. pindah
tempat atau mengundurkan diri ke daerah yang tidak atau belum terjangkau
b. mencari
perlindingan kepada ilmu gaib.
3. Perlawanan
yang irasionil, yang tergantung
kepada kekuatan seorang pemimpin yang karismatis.
4. Belum
terpikirkan bagaimana tindak lanjut (follow-up) daripada gerakan tersebut.
b) Gerakan
Bangsa Indonesia Setelah 1900
Reaksi perlawanan terhadap penjajahan Belanda:
1. Perlawanan
bersifat nasional yaitu meliputi seluruh indonesia
7. Perlawanan
yang positif (senjata dan taktik modern).
8. Perlawanan
itu diorganisir secara teratur dan rasionil.
9. Sudah
ada tindak lanjut.
B. Faktor-faktor
yang menyebabkan
pertumbuhan pergerakan nasional.
Faktor yang mempengaruhi gerakan
nasional dan nasionalisme di Indonesia adalah faktor yang datang dari dalam dan luar negeri.
Adapun
faktor atau sebab-sebab yang berasal
dari dalam negeri (intern) ialah:
1. Penderitahan
akhibat penjajahan.
2. Kesatuan Indonesia
dibawah Pax Neerlandica memberi
jalan kearah kesatuan bangsa.
3. Pembangunan
komunikasi antar pulau.
4. Pembatasan
penggunaan atau penyebaran bahasa Belanda dan penggunaan
bahasa Melayu dipopulerkan.
5. Undang-undang
desentralisasi 1903 (pembentukan kotapraja)
6. Pergerakan
kebangsaan di Indonesia dapat juga disebut sebagai reaksi terhadap semangat
kedaerahan.
7. Inspirasi
kejayaan Sriwijaya dan Majapahit.
faktor
atau sebab-sebab yang berasal dari luar negeri (ekstern) adalah :
1. Ide-ide
barat yang masuk lewat pendidikan
barat yang modern menggantikan pendidikan tradisionil.
2. Kemenangan
Jepang atas Rusia pada 1905 mengembalikan kepercayaan bangsa Indonesia akan
kemampuan diri sendiri.
3. Pergerakan
dan perjuangan bangsa lain menentang
penjajahan: India, Turki, Irlandia dan lain-lain.
C.
Berdirinya
Organisasi Pergerakan Nasional
Pergerakan
nasional menentang penjajahan berhasil membangun RI sebagai suatu negara yang
merdeka dan berdaulat. Adapun gerakan nasional sebagai wujud dari nasionalisme
adalah berdirinya organisasi yang bersifat nasioanal antara lain adalah
berdirinya:
1.
Boedi
Oetomo (BO) atau Budi Utomo (BU)
Didirikan oleh mahasiswa-mahasiswa
Stovia (sekolah untuk mendidik dokter-dokter pilihan) di Jakarta yaitu: Sutomo,
Gunawan, Suraji dan sebagainya, pada tanggal 20 Mei 1908. Inspirasi
pendiriannya datang dari dokter Wahidin Sudirohusodo dari Yogyakarta, 1906
mendirikan Yayasan Bea Siswa (Studie-fonds),
maksudnya merupakan "budi ingkang utami". Begitulah kemudian nama
organisasi pemuda-pemuda tadi mendapatkan namanya "Budi Utomo".
Berdirinya Budi
Utomo menandai perkembangan baru dalam sejarah bangsa Indonesi dan tanggal
berdirinya selalu diperingati bangsa Indonesia sebagai Hari Kebangkitan
Nasional.
Sifat BU pada mulanya adalah
keanggotaannya yang terbatas pada golongan elite Jawa yang umumnya terdiri dari
golongan kaum intelektual.
2.
Sarekat
Dagang Islam 1911-1912
Revolusi Cina pada 10-10-1911
bergema pula di Indonesia. Orang-orang Cina di perantauan sadar akan harga diri
mereka, lalu mendirikan ikatan-ikatan yang eksklusif, ikatan-ikatan yang sangat
mementingkan diri sendiri dan bercorak nasionalis Cina (realistis). Kedudukan
mereka dibidang ekonomi sangat kuat. Pedagang-pedagang batik merasa terdesak
atau dirugikan. Karena itu untuk mengahadapi mereka, pedagang- pedagang batik
dari Surakarta di bawah ppimpinan Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang
Islam. Hubungan antara pedagang-pedagang Cina dan Indonesia menjadi begitu
tegang. Antar pemuda terjadi perkelahian-perkelahian. SDI bertanggungjawab namun
demikian SDI kemudian dilarang.
3.
Sarekat
Islam
Pada hakekatnya SI merupakan
kelanjutan dari SDI, atau SDI dengan baju baru. Dasar organisasi: persatuan
bangsa dengan islam sebagai tali atau simbol persatuan, sedang tujuannya:
kemajuan perdagangan, kemajuan hidup kerohanian dan menggalang persatuan
diantara umat Islam. SI merupakan partai yang diorganisir oleh kelas
pengusaha kecil Indonesia. Agama Islam dijadikan umpan untuk menarik minat
dukungan golongan mereka ini.
4.
Muhammadiyah
Organisasi ini didirikan pada
tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta oleh K.H. Akhmad Dakhlan. Tujuan
organisasi ini yaitu pemurnian agama Islam dari unsur-unsur non Islam. Aliran
wahabi (Arab) dan Muh. Abduh (Mesir) menjadi pengaruh dari organisasi ini.
Tujuan
dari pergerakan ini adalah :
1. Menyesuaikan
diri dengan kemajuan jaman (modernisasi) sehingga orang islam tidak hanya paham
tentang ajaran- ajaran agama tetapi juga pengetahuan modern
2. Memurnikan
diri dari unsur-unsur non-islam, terutama
tradisi Jawa yang dianggap salah dan menyimpang atau bertentangan dengan
ajaran Islam
5.
Indische
Partij
IP merupakan organisasi "politik
murni" yang pertama kali didirikan pada 6
September 1912. Pendirinya adalah tiga serangkai yaitu : E.F.E. Douwes Dekker,
Dr. Cipto Mangunkusumo dan R.M. Suwardi Suryaningrat, yang kelak lebih dikenal
dengan nama Ki Hajar Dewantara (KHD). Pemimpin-pemimpin IP adalah orang-orang
yang agresif dan berani dalam menentang pemerintah kolonial.
Pergerakan
ini berdasarkan nasionalisme (kebangsaan), adapun tujuannya adalah :
1. Jangka
pendek : mempersatukan seluruh bangsa India
(termasuk Indo-Eropa yang mau mengakui dasar pergerakan tadi )
2. Jangka
panjang : mencapai India merdeka
Sikap
pergerakan ini terhadap pemerintah Belanda yaitu tegas-tegas non-kooperasi
yang diilhami oleh perasaan tidak puas, antara lain :
a. Golongan Indonesia karena kehilangan
peranan yang berarti dalam politik dan sosial ekonomi
b. Golongan
Indo-Eropa karena merasa dianaktirikan oleh
masyarakat dan pemerintah Belanda dan merasa terjepit dalam pergaulan
sosial, kehidupan politik dan ekonomi (merasa diperlakukan lebih rendah
daripada orang Belanda totok).
6.
ISDV
(Indische Social Democratische Vereniging): 1914
Pada tahun 1913, seorang sosialis
Belanda yang bernama : Hendriek Sneevlier datang ke Semarang dan pada tahuhn
berikutnya mendirikan ISDV yang merupakan perkumpulan Marxistis. Semarang
memeng menguntungkan sebabnya :
1. Banyak
terdapat buruh, unsur utama pendukung Marxisme
2. Adanya
organisasi yang telah berkembang, yaitu SI yang sesuai dengan taktik ISDV
mencari pendukung, yaitu infiltrasi ketubuh SI dan dengan demikian dapat
merebut massa pendukungnya
Jadi ISDV
merupakan perkumpulan yang merintis berdirinya PKI, ia
mempersiapkan kader-kader bagi partai itu.
D.
Perkembangan
Politik Sekitar Perang Dunia I
Dalam Perang Dunia I, Nederland
mengambil sikap netral, namun situasi perang mempersulit pula hubungan antara
Nederland dan Indonesia. Situasi tersebut menjadi salah satu sebab pergerakan yang
ada menjadi semakin radikal. BU dan SI menuntut diadakannya milisi bagi bumi
putera India-Belanda. Pada tahun 1916 telah diterima suatu undang-undang
tentang pembentukan Volksraad (Dewan Rakyat) ditingkat pusat. Hal ini yang
membuat partai-partai yang bersifat radikal masuk dalam Dewan rakyat hal ini
menyebabkan berkembangnya salah satu aliran sosialisme ke Indonesia lewat ISDV.
Maka perkembangan politik di Indonesia semakin kuat dan banyak organisasi
politik tumbuh dengan subur dan semakin terang-terangan. Menurut aturan
tambahan yang mulai berlaku sejak September 1919 hak berserikat diakui penuh,
termasuk mendirikan partai-partai politik. Tetapi cara mempergunakn hak itu
dapat dibatasi oleh keputusan raja (koninklijk
Besluit) hal ini dapat dilihat dari berdirinya organisasi politik
nasional misalnya :
1.
Perserikatan
Komunis India
ISDV pada tanggal 23 Mei 1920 telah menjelma menjadi
PKI, partai ini berkembang cepat karena propagandaanya yang sangat menarik, memiliki
pemimpin-pemimpin yang berjiwa kerakyatan dan pandai merebut massa rakyat. Namun kekuatan
sesungguhnya terletak pada anggota-anggotanya dari kalangan buruh. Sejak
lahirnya PKI selalu berusaha mengembangkan kekuatan organisasi dan idiologinya.
Pada Desember
1920 PKI menjadi anggota komintern sebab perkembangan kapitalisme berarti
perkembangan poletariat. Pada tahun 1921, ketika diadakan konggres di
Semarang PKI sudah sungguh-sungguh bercorak internasional, terbukti dalam
konggres itu Lenin dan Trotsky mendapat sanjungan hebat. Untuk mendalami ajaran
komunis, PKI mengadakan kursus-kursus politik, yang memberi uraian tentang
pokok-pokok Marxisme- Komunisme. Tetapi kemudian partai ini dilarang
oleh pemerintah.
2.
Perhimpunan
Indonesia
Pada tahun 1908, bersama dengan
didirikannya BU, didirikanlah perkumpulan pelajar di Belanda yang
disebut Indische Vereniging (perhimpunan
India). Sejumlah pelajar indonesia mendirikan perkumpulan itu dengan tujuan
kekeluargaan semata-mata karena merasa senasib sepenanggungan di perantauan. Masyarakat
Belanda menaruh simpati dan memberikan bantuan terhadap mereka.
PI juga
memberikan corak baru bagi perkembangan pergerakan kebangsaan, karena pada
tahun 1923 PI mengeluarkan suatu pernyataan politik yang konsepnya
telah disepakati pada akhir tahun 1922. Tujuan perkumpulan juga dipertegas :
Indonesia Merdeka. Asas politik perjuangannya adalah berdikari (self help) dan tidak
meminta- minta (not-mendicancy). Karena itu
sikapnya terhadap pemerintah kolonial antipati dan non-kooperasi (tidak
bekerjasama).
Untuk
mempermudah perkembangannya dan mempropa-gandakan ide-idenya, PI mempunyai alat
komunikasi berupa majalah yang semula bernama India Putera, tetapi kemudian diubah menjadi Indonesia Merdeka, untuk mempertegas tujuan yang hendak dicapai.
Dalam usaha memperjuangkan tujuannya PI
menyebarkan keyakinan:
a.
Perlunya persatuan seluruh nusa Indonesia
b.
Perlunya seluruh rakyat indonesia diikutsertakan
c.
Adanya pertentangan antara penjajah dan terjajah yang
tidak boleh dikaburkan
d.
Memulihkan kerusakan jasmani dan rohani rakyat
3.
Partai
Nasional Indonesia
Pergerakan ini didirikan di Bandung
pada tanggal 4 Juli 1927 oleh sejumlah pejuang kemerdekaan diantaranya: Sukarno,
Iskak Cokroadisuryo, Cokro Aminoto, Samsi, Sartono, Budiarto, Sunario dan
Anwari. PNI dalam mengobarkan semangat nasional secara meluas,
karena semangat nasional itu harus disalurkan. Untuk itu Bung Karno mengajukan
Trilogi sebagai pegangan perjuangan :
a. Kesadaran
nasional
b. Kemauan
nasional
c. Perbuatan
nasional
Dasar PNI adalah
: Marhaenisme (sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi
). Menurut Bung Karno Marhaeinisme adalah suatu idiologi kerakyatan yang
mencita-citakan terbentuknya masyarakat sejahtera secara merata. Adapun tujuan
PNI adalah ; Mencapai Indonesia Merdeka.
Karena adanya golongan yanag pro dan
kontra, maka kemudian timbullah dua partai baru, yaitu:
a.
Partindo (pendiri:
sartono)
b.
PNI baru (pendiri:
pemimpin yang kontra)
5.
Pergerakan
wanita
Pergerkan wanita
yang mula-mula berupa pergerakan sosial, yaitu suatu gerakan yang berjuang
untuk menaikkan derajat (kedudukan) wanita dalam masyarakat. Sering
dinamakan pergerakan emansipasi.
Pergerakan
wanita dipelopori oleh RA. Kartini (1879-1904) menurutnya, wanita mengalami
nasib yang buruk karena kurangnya pendidikan mereka, sehingga dalam banyak hal
hidup mereka tergantung pada laki-laki. Karyanya yang terkenal adalah “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Jasanya
selalu dikenang oleh bangsa ini, maka untuk menghargai jasa-jasanya tersebut,
tanggal 21 April diplot sebagai hari kartini. Disamping R.A
Kartini, bangsa Indonesia mengenal nama Ibu Dewi Sartika
dari Bandung. Pejuang kemajuan wanita lain yaitu Maria Walanda Maramis. Ia adalah
puteri Minahasa yang lahir pada tahun 1872. Panggilan persatuan kebangsaan
mendorong perhimpunan- perhimpunan wanita untuk mengadakan kongres persatuan
Indonesia pertama pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Pergerakan
wanita yang bercorak politik berdiri pada tahun 1931 di Bandung yaitu : Isteri
Sedar. Tujuannya ialah untuk mencapai Indonesia merdeka. Seorang
pemimpinnya adalah Suwarni Jayaseputra. Tahun 1932 berdiri pula Isteri
Indonesia yang tujuannya mencapai Indonesia Raya, pemimpinnya ialah Maria Ulfah
dan Ny. Sunaryo Mangunpuspito.
Dengan demikian wanita tidak mau
ketinggalan. Bersama laki-laki mereka berjuang mencapai Indonesia Merdeka.
6.
Sumpah
Pemuda 28 Oktober 1928
Pemuda-pemuda Indonesia tidak
ketinggalan, mereka mendirikan pada mulanya mendirikan perkumpulan-perkumpulan
pemuda lokal. Adapun tokoh-tokoh konggres pemuda yaitu Sugondo Joyopuspito (Ketua), Muh.
Yamin (Sekretaris), Abuhanafiah, W. R. Supratman, Sukarjo Wiryoranoto, Kuncoro
Purbopranoto, M. H. Thamrin.
a.
Jong
Java
Dianggap anak
dari BU, semula bernama Tri Koro Darmo yang didirikan tanggal 7 Maret 1915 di
Jakarta. Tujuan utamanya adalah mempersiapkan pemuda-pemuda menjadi pemimpin
bangsa dikemudian hari.
b.
Lain-lain
daerah
Pemuda-pemuda
lain daerah tidak mau ketinggalan, pada tanggal 9 Desember 1917 berdirilah Jong
Sumatranen Bond. Meskipun perkumpulan ini merupakan wadah bagi
pemuda-pemuda Sumatera, tetapi perkumpulan ini aktif di Jawa karena disinilah
tempat pemuda-pemuda bersekolah.
Pada tahun 1918
berdiri pula Jong Minahasa, lalu Jong Ambon dan Jong Celebes (Sulawesi), Jong
Borneo (Kalimantan).
Konggres pemuda-pemuda Indonesia
yang kedua diadakan pada 26 s/d 28 Oktober di Jakarta. Para utusan yang datang
dari berbagai daerah di Indonesia mempertegas rasa persatuan kebangsaan mereka
dengan mengucapkan sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, pada hari
terakhir penyelenggaraan konggres itu. Dan hari itu kemudiam dikenal sebagai
hari Sumpah Pemuda. Pada hari itu para utusan pemuda mengucapkan sumpah yang
berbunyi sebagai berikut:
Pertama: kami
putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu tanah Indonesia.
Kedua: kami
putra dan putri Indonesia menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.
Ketiga: kami
putra dan putri Indonesia berbangsa satu, bangsa Indonesia.
Karena
pertimbangan politik, maka rumusan Sumpah pemuda tersebut mengalami perubahan
urutan ayat, yang intinya satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa.
Disamping
kesepakatan tersebut, para pemuda juga menerima lagu Indonesia Raya ciptaan WR
Supratman sebagai lagu kebangsaan dan bendera merah putih sebagai bendera kebangsaan
Indonesia. Pada upacara penutupan konggres lagu kebangsaan itu
dinyanyikan secara instrumentalia.
E.
Krisis
Pergerakan
Pada tahun 1930-1935 masa
pergerakan kebangsaan mengalami masa krisis, yaitu hidup subur tidak dapat,
matipun tidak mau. Mengapa mengalami krisis?
a. Pengaruh
krisis ekonomi 1929/1930
yang memaksa pemerintah tidak keras untuk menjaga
ketertiban dan keamanan
b. Pembatasan
hak berkumpul dan berserikat
c. Tanpa
melalui suatu proses pengadilan
Gubernur Jendral dapat menyatakan
sesuatu pergerakan atau kegiatannya bertentangan dengan law and order sesuai dengan Koninklijk Besluit tanggal
1 September 1919
d. Sebagai
akibat kerasnya pemerintah
kolonial, banyak pemuka
pergerakan nasional yang diasingkan. Antara lain Soekarno, Hatta, dan
Syahrir.
Meskipun pada 1935 keadaan ekonomi
sudah normal kembali, pemerintah kolonial belum bersedia memulihkan
kebebasan-kebebasan politik karena disebabkan bukan saja oleh sifat konservatif
pemerintah, tetapi juga karena kegentingan dari luar yang mengganggun
ketenangan pemerintah India-Belanda yaitu bahaya kuning (ekspansi Jepang).
Ø Pergerakan
nasional antara tahun 1935-1942
Parindra
Permulaannya
Parindra dipimpin oleh Dr. Sutomo sampai wafatnya tahun 1938. Kemudian diganti
oleh Wuryaningrat. Tokoh Parindra lain yang terkemuka adalah M.H Thamrin dari kaum Betawi. Dasar Parindra
adalah nasionalisme Indonesia raya. Tujuannya adalah Indonesia mulia dan
sempurna.
Gerindo
Partai ini
didirikan pada tahun1937 oleh bekas orang-orang Partindo.
Tokoh- tokohnya Sartono, AK Gani, Sanusi Pane, Sipahutar, Moh. Yamin dan
sebagainya.
Ø Federasi Partai-Partai
Di Indonesia
terdapat berbagai pergerakan yang terpisah-pisah. Banyaknya pergerakan di
Indonesia memang kurang menguntungkan, namun ini sesuai dengan sifat masyarakat
Indonesia yang pluralistik dengan batas-batas kepentingan, paham politik, paham
agama, kesukuan, ras dan sebagainya. Sistem kepartaian itu dipengaruhi dari
Belanda.
Namun demikian partai-partai
menyadari perlunya persatuan, meskipun tidak dalam bentuk peleburan (fusi).
Selama masa pergerakan, ada beberapa kali percobaan untuk mempersatukan
partai-partai seperti:
a.
Konsentrasi
Radikal
Yang sudah kita sebut dimuka
(perkembangan politik sekitar PDI) yang dibentuk pada 1918 oleh BU, SI, ISDP
dan Insulinde. Namun tidak bisa bertahan, karena perselisihan paham diantara
anggota-anggotanya.
b.
PPPKI
(Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Partai Kebangsaan Indonesia)
Merupakan persatuan partai atau
pergerakan-pergerakan dalam bentuk federasi. Pendiriannya dipelopori oleh
Sukarno (PNI) yang begitu mendambakan persatuan. Anggota federasi itu PNI, PSI,
BU, Gerakan- gerakan daerah seperti Pasundan, Kaum Betawi, Sarekat Sumatra dan
studieclub-studieclub.
Federasi ini
dibentuk dengan tujuan:
1. Mencegah
perselisihan antar partai
2. Menyatukan
organisasi
3. Mengembangkan
persatuan kebangsaan Indonesia
c.
Gapi
(Gabungan Politik Indonesia)
Gapi berdiri pada 1939, dorongan
langsung pembentukan Gapi adalah penolakan petisi Sutarjo tahun 1938, padahal
petisi itu telah diterima oleh Volksraad. Anggotanya terdiri dari Parindra,
Gerindo, Pasundan, Persatuan Minahasa, PSII, PII dan Perhimpunan Politik
Katolik Indonesia.
d.
MIAI
(Majelis Islam Ala Indonesia)
Merupakan federasi dari Muhammadiyah dan
Nahdatul Ulama, yang dibentuk pada 1937 di Surabaya. Federasi ini
didirikan khusus untuk maksud-maksud keagamaan dan persatuan Umat Islam.
e.
PVPN
(Persatuan Vakbonden Pegawai Negeri)
Didirikan pada 1929 di Jakarta dan
merupakan sentral sarekat-sarekat sekerja pegawai pemerintah. PVPN tidak
berpolitik. Ia semata-mata bertujuan memperbaiki kesejahteraan anggota.
f.
Konfederasi
Pergerakan
Untuk menggalang persatuan yang lebih
kokoh, federasi- federasi pergerakan itu mengadakan konfederasi bernama
Konggres Rakyat Indonesia pada 1939 atas inisiatif Gapi. Anggotanya: Gapi,
MIAI, PVPN. Dan pada tahun 1941 namanya diubah menjadi Majelis
Rakyat Indonesia. Mengingat situasi dunia yang kritis, Majelis Rakyat
Indonesia bersedia bekerja sama dengan pemerintah. Namun kesediaan
ini menimbulkan perpecahan dengan demikian majelis sampai jatuhnya Indonesia ke
tangan Jepang belum bisa menghasilkan yang berarti.
Ø Usul Perubahan Kenegaraan Menjelang Perang Dunia II
Pada 1935 kondisi sosial ekonomi
Indonesia sudah bebas dari pengaruh krisis ekonomi yang terjadi 5 tahun
sebelumnya. Kondisi sosial ekonomi sudah pulih, kaum pergerakan
mengharapkan agar hak-hak politik berdasarkan paham demokrasi dipulihkan juga.
Pergerakan
rakyat mendesak agar pemerintah suka mengadakan pembaharuan yang demokratis. Tuntutan
penting yang menghendaki pembaharuan itu ialah yang kemudian dikenal sebagai
petisi Sutarjo dan mosi Wiwoho, yaitu keduanya diajukan lewat dan dengan
dukungan volksraad. Bulan Nopember 1938 keluarlah putusan pemerintah Nederland
yang menolak petisi. Dengan ditolaknya petisi itu terbukti jelas bahwa
perjuangan kemerdekaan lewat volksraad tidak bermanfaat sebab suatu usul yang
telah diterima lembaga ini toh tidak dapat dilaksanakan.
Dengan demikian bangsa Indonesia
penuh kekecewaan, karena pemerintah Belanda meskipun dalam kondisi yang genting
tidak mau mengerti cita-cita (aspirasi) rakyat Indonesia akan kemerdekaan.
Karenanya bangsa Indonesia merasa tidak perlu melakukan pembelaan bila ada
serbuan dari luar, karena bangsa Indonesia tidak dipersiapkan untuk melakukan.
Jepang dengan kecepatan yang mengagumkan bergerak ke selatan dan dalam waktu
singkat Belanda harus menyerahkan tanggung jawabnya di Indonesia kepada Jepang
pada tanggal 9 Maret 1942. Sejak saat ini mulailah masa penjajahan Jepang yang
akan berlangsung kira-kira 3 1/2 tahun.
MASA PENJAJAHAN JEPANG
A. Hubungan Indonesia - Jepang sebelum 1942
Sudah sejak awal abad ini Jepang
menjadi imperialistis karena berbagai faktor, antara lain karena Jepang
dihadapkan kepada persoalan kepadatan penduduk. Kemajuan industri yang cepat dan
adanya pembatasan imigerasi ke Australia dan Amerika mendorong jepang
menjalankan imperialisme modern.
Sesudah PD I
minat terhadap Indonesia bangkit. Alasan idiil bangkitnya minat itu adalah
ajaran Shintoisme tentang Hakko- ichiu yaitu ajaran tentang kesatuan keluarga
umat manusia. Khususnya yang menyangkut bangsa Indonesia, ajaran Hakko-ichiu
diperkuat oleh keterangan para anthropolog Jepang sekitar 1930 yang
menyatakan bahwa bangsa Jepang dan Indonesia itu serumpun. Karena itu
beralasan pula di kelak kemudian hari mengaku “saudara tua”. Kecuali
alasan tersebut masih ada lagi alasan riil yaitu alasan ekonomis. Yaitu
membutuhkan sumber-sumber alam seperti minyak tanah, timah, karet, tungsten dan
kina.
B. Jalannya Invasi (Penyerbuan)
Pada tanggal 8 Desember 1941*),
Jepang menyerbu Pearl Harbour, pangkalan armada laut AS di Pasifik. Maksud dari
penyerbuan itu adalah melumpuhkan kekuatan AS di Pasifik sehingga penyerbuan
Jepang ke Asia Tenggara bisa berlangsung dengan cepat dan aman.
Penyerbuan
ke daerah-daerah selatan dilakukan baik oleh Angkatan Darat (Rikugun) maupun
Angkatan Laut (Kaigun) Jepang. Sesuai dengan tujuan penyerbuan, maka penyerbuan
ke Indonesia dilakukan dengan menduduki daerah-daerah minyak di Sumatera dan
Kalimantan terlebih dahulu.
Penyerbuan jepang secara singkat
dapat dapat digambarkan sebagai berikut:
a.
Dari arah barat
Sebelum pendaratan tentara
dilakukan, angkatan udara Jepang melakukan pemboman-pemboman pada kota-kota
penting dan kekuatan pertahanan lawan.
1. Kearah
Kalimantan Barat, jepang langsung mengirimkan tentara dari Indo-Cina
2. Kearah Malaya
dan Sumatera. Kota-kota terutama pelabuhan-[elabuhan di Sumatera telah
mengalami pemboman-pemboman, baru kemudian diduduki.
b.
Dari arah timur
Jepang mendirikan pangkalan operasi
di Kepulauan Palau, yang terletak disebelah timur Mindanau. Dari Palau
dilancarkan serangan untuk menduduki
Tarakan dan Balikpapan Manado, Ambon (Januari 1942), Ujung Pandang, Kepulauan
Nusa Tenggara dan Papua (Februari 1942).
c.
Serangan ke Jawa
Jepang melancarkan serangan serentak
dengan mengerahkan ketiga angkatan. Angkatan Laut Belanda yang mencoba
menghalang-halangipun tidak kuasa melawan dan Jepang dapat memukul mundur.
Setelah itu pada tanggal 1 Maret 1942, Jepang berhasil melakukan pendaratan
di pantai Banten, Indramayu dan
Bojonegoro
Akibat suksesnya serangan kilat
tersebut kecuali prestise Belanda merosot, bangsa Indonesia menjadi makin
percaya pada kemampuan sendiri. Kalau diberi kesempatan, kemampuan untuk menang
seperti Jepang itu pastilah mungkin.
C.
Organisasi
Pemerintah Jepang di Indonesia
Berbeda dengan Belanda yang
menganggap India-Belanda (Indonesia) sebagai satu kesatuan koloni, Jepang
membagi Indonesia dalam tiga koloni. Dasar dari pembagian itu bersifat baik
strategis militer maupun politis. Strategi militer berarti disesuikan dengan
organisasi pertahanan Jepang politis disesuikan dengan penilaian Jepang
terhadap perkembangan sosial politik di Indonesia. Jepang menilai
Jawa lebih maju dari pada Sumatera, tetapi hanya kaya akan tenaga manusia,
sedangkan pulau lain kaya akan sumber-sumber alam tetapi penduduknya jarang, karena
itu wilayah Indonesia dibagi menjadi tiga koloni terpisah :
a. Jawa-Madura
dengan pusatnya Jakarta dibawah Tentara XVI
b. Sumatra
dengan pusatnya Bukittinggi dibawah Tentara XXV
c. Pulau-pulau
lain dengan pusatnya Ujung Pandang (Makasar) dibawah Angkatan Laut, yang mempunyai
penghubung di Jakarta, yaitu Laksamana Maeda yang besar sumbangannya terhadap
Indonesia menjelang proklamasi. Jadi dengan demikian Jepang menjalankan
politik " Devide et impera".
Untuk memerintah Indonesia memang
Jepang mengalami kesulitan. Pertama, berhubungan dengan keadaan geogerafi,
masyarakatnya heterogen dan pluralistik. Kedua, kurangnya pengetahuan Jepang
tentang Indonesia mengenai sifat-sifatnya tadi. Ketiga, Jepang kekurangan
tenaga untuk mengisi jabatan-jabatan yang menjadi kosong karena ditinggalkan
Belanda.
Adapun organisasi pemerintahan secara vertikal
diatur sebagai berikut:
·
Si =
Kotapraja
·
Syuu =
Karesidenan
·
Ken =
Kabupaten
·
Gun
= Kawedanan
·
Son
= Asisten
·
Ku
= Desa
·
Aza
= Dukuh
·
Gumi
= RT/ Rukun Tetangga
D. Tanggapan Bangsa Indonesia
Reklame
Jepang memang menarik hingga sebagian bangsa Indonesiapun tertarik. Sebagian besar propaganda
Jepang itu baik dengan kata-kata maupun perbuatan. Hingga
pemimpin-pemimpin Indonesia seperti Soekarno, Hatta, Syahrir sekitar tahun 1930
telah meramalkan kemungkinan terjadinya perang Pasifik.
Mereka
datang untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan bangsa barat. Untuk itu perlu
bantuan rakyat setempat agar maksud tersebut dapat tercapai, Bangsa Indonesia
diharuskan memberikan bantuan berupa hasil-hasil alam maupun tenaga. Makin banyak
bantuan diberikan, makin cepat pembebasan dicapai.
Tidak
lama setelah Jepang menguasai Indonesia, ternyata harapan datangnya
kesejahteraah bagi mereka masih sangat jauh. Bahkan yang dihadapi sekarang
adalah masa penindasan total yang lebih kejam daripada sebelumnya. Jepang telah
melakukan perampasan kebebasan yang semula dimilikinya.
Perampasan
kekayaan dalam berbagai bentuk, misal : raja brana dan raja kaya. Rakyat
dikenakan tanam paksa untuk kebutuhan perang : kapas, randu, rami, jarak dan
sebagainya. Mereka juga dikenakan kerja paksa (romusha atau narakarya) untuk
membangun bangunan militer. Sesungguhnyalah di jaman Jepang bangsa
Indonesia tidak hidup dalam lingkungan Kemakmuran Bersamamelainkan Lingkungan
Kemiskinan Bersama. Namun orang Indonesia tentulah tidak
dapat ditipu, karena itu sikap ramah bangsa Indonesia mengalami
perubahan. Bangsa Indonesia berusaha melawan, meskipun kerap kali
dengan cara yang terselubung. Di Indonesia terdapat berbagai kekuatan sosial
politik yang memperjuangkan tercapainya tujuan Indonesia Merdeka. Diantaranya:
1)
Golongan pangreh praja dan pegawai
2)
Para santri dan ulama islam
3)
Golongan sosialis dibawah Syahrir sejak semula sudah
memusuhi Jepang karena alasan ideologis
4)
Golongan komunis dibawah Amir Syarifuddin, seorang
sosialis (kiri)
5)
Golongan pemuda yang mempunyai prinsip mirip dengan
golongan kumunis
6)
Golongan Pemuda Menteng, erat berhubungan dengan
golongan Kaigun, pegawai- pegawai pada dinas Angkatan Laut yang dipimpin oleh
A. Subarjo
7)
Golongan Nasionalis non agama dibawah Sukarno- Hatta.
Disamping
gerakan-gerakan perlawanan yang tersebut diatas, pada akhir penjajahan Jepang
terjadi pula gerakan perlawanan terang-terangan, yaitu yang memnggunakan
kekerasan. Karena penindasan yang tiada tertahankan terjadilah pemberontakan
rakyat di Tasikmalaya dan Indramayu. Tetapi yang lebih berarti adalah
pemberontakan Peta di Blitar ( 14 Februari 1945) yang dipimpin oleh Supriyadi,
seorang shodanco dari daidan Blitar. Mereka sendiri nasibnya tidak begitu
sengsara, tetapi umumnya tiada tahan melihat penderitaan rakyat. Semua
pemberontakan ini dapat mudah dipadamkan, karena memang tidak punya kekuatan
sennjata untuk menang. Jepang dengan mudah melokalisir pemberontakan itu. Namun
pemberontakan itu cukup mendebarkan Jepang, sehingga mempercepat tindak lanjut
dari pernyataan koiso, terbukti pada 1 Maret dikeluarkanlah keputusan
pembentukan BPUPKI.
E. Sikap Jepang
Karena kurang
berminat dan optimisme yang begitu besar akibat penyerbuan kilat yang berhasil
maka pemerintah Jepang hanya berpedoman asal:
1. Keamanan
dan ketertiban terjamin
2. Sumber-sumber
alam yang vital dapat dikuasai dengan aman
3. Prinsip
berdikari (tidak tergantung pada Tokyo) dapat dilaksanakan.
Karena itu sehari setelah mendarat
di Jawa, maka tentara Jepang mengeluarkan maklumat yang mengancam hukuman mati
bagi siapa yang melakukan tindakan pembumihangusan bangunan vital dan
menimbulkan gangguan atas keamanan dan ketertiban. Oleh karena terlalu optimis
dan terlalu percaya kepada diri sendiri, maka Jepang tidak memandang perlu
mengikutsertakan rakyat indonesia secara serius dalam urusan pemerintahan.
Buktinya Jepang hanya mendirikan Gerakan Tiga A pada tanggal 29 April 1942 yang
berbunyi:
1.
Nippon Cahaya Asia
2.
Nippon Pelindung Asia
3.
Nippon Pemimpin Asia.
Minat terhadap
kerjasama dengan bangsa Indonesia makin membesar setalah Jepang terpukul dalam
pertempuran laut Karang pada tanggal 7 Mei 1942. Jepang harus memberi konsesi
makin besar kepada bangsa Indonesia agar makin besar pula kesediaan bangsa
Indonesia untuk memberikan kerjasamanya.
Berbagai
kegiatan masa dibentuk, diantaranya:
1. Seinendan = barisan pemuda
2. Seinentai = barisan murid-murid sekolah dasar
3. Gakukotai = barisan murid-murid sekolah
lanjutan
4. Fujin-seinentai =
barisangadis-gadis
5. Fujinkai = barisan wanita
6. Keibodan = barisan cadangan polisi
7. Heiho = barisan cadangan prajurit
(militer)
8. Romusha =
barisan pekerja (paksaan)
Badan yang lebih penting dalam
pergerakan dana dan daya rakyat Indonesia adalah Putera yang dibentuk pada
bulan Maret 1943 sebagai pengganti Gerakan Tiga A. Putera dipimpin oleh empat
serangkai, Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara dan K.H Msnsyur. Untuk
menjalankan tugasnya, mereka seringkali harus berpidato atau berhubungan dengan
masyarakat.
Untuk mengawasi gerak-gerik Peta,
Jepang menempatkan sejumlah pelatih (instruktur) yang berpangkat perwira (shidokan) dan bintara (shido kasyikan).
F.
Jepang Gulung
Tikar, Republik Indonesia Diproklamasikan
Pada waktu Jepang menyusun rencana
penyerbuannya, ia tidak mengira bahwa USA setelah dipukul di Pearl Harbour bisa
bangkit kembali dalam waktu begitu cepat. Dalam usahanya menguasai Australia,
Jepang terpukul di dalam pertempuran Laut Karang pada tanggal 7 Mei 1942.
Pertempuran ini ternyata merupakan titik balik bagi panah penyerbuan Jepang
yang semula dengan cepat meluncur dati busurnya. Sejak itu, panah tersebut
berbalik kembali ke utara.
Agar supaya
rakyat Indonesia makin bersedia membantu Jepang dengan segala pengorbanannya,
maka Perdana Menteri Koiso pada tanggal 7 September 1944 mengucapkan pidato
dimuka parlemen Jepang yang antara lain menjanjikan pemberian kemerdekaan
kepada India Timur (Indonesia) di kemudian hari, dan inilah yang dikenal dengan
sebutan " Koiso declaration".
Sementara itu kedudukan Jepang
terus-menerus terdesak. Komando tentara Jepang diwilayah selatan mengadakan
rapat pada akhir bulan Juli 1945 di Singapura. Disetujui bahwa kemerdekaan bagi
Indonesia akan diberikan pada tanggal 7 September 1945, setahun setelah
pernyataan Koiso. Dalam bulan Agustus, perubahan bertambah cepat. Pada tanggal
7 Agustus, Jendral Terauchi menyetujui pembentukan Panitia PersiapanKemerdekaan Indonesia (PPKI
= Dokuritzu Zyunbi Inkai) yang
bertugas melanjutkan pekerjaan BPUPKI dan mempersiapkan segala sesuatu yang
diperlukan karena akan diadakannya pemindahaan kekuasaan dari Jepang kepada
bangsa Indonesia
Anggota PPKI terdiri atas seluruhnya
21 orang Indonesia dan diketuai oleh Sukarno, sedang Hatta menjadi wakil
ketuanya. PPKI secara simbolik dilantik oleh Jendral Terauchi dengan
mendatangkan Sukarno-Hatta ke Saigon pada tanggal 9 Agustus 1945. Setelah dilantik
Sukarno_hatta pulang ke Indonesia tanggal 14 Agustus 1945 dengan singgah di
Singapura, dan bertemu anggota-anggota PPKI dari Sumatra yaitu : Moh Amir,
Teuku Hassan, Abdul Abbas. Dari pertemuan mereka dengan kol. Nomura di Saigon,
Sukarno-Hatta mengetahui bahwa kekelahan Jepang akan terjadi dalam waktu yang
pendek setelah diketahui pihak Rusia telah menyatakan perang melawan Jepang
pada tanggal 9 Agustus.
Sementara itu
pada tanggal 15 Agustus Syahrir telah mendengar kabar bahwa Jepang telah
menyerah kepada Sekutu. Karena itu ia mendesak supaya proklamasi segera
dikalsanakan. Namun Sukarno-Hatta belum bersedia karena kabar itu baru diterima
lewat radio gelap. Setelah kabar resmi
tentang penyerahan Jepang diterima, Sukarno-Hatta dan para pemuda diantaranya
Sukarni kembali ke Jakarta. Sukarno-Hatta tiba dikota itu sudah jam 11 malam.
Segera Hatta mempersiapkan rapat dan menghubungi para anggota yang tentunya
telah dibuat bingung. Tetapi peraturan melarang adanya rapat-rapat sesudah jam
10 malam. Karena itu rapat atas tawaran Maeda yang baik hati diselenggarakan
dirumahnya di Miyokodori (sekarang Jln. Imam Bonjol No. 1 Jakarta).
Sementara itu pada malam hari
tanggal 15 Agustus terjadi dua hal penting, yaitu persiapan rapat PPKI dan
rapat Gerakan Pemuda. Setelah Jepang diberitakan menyerah, PPKI akan mengadakan
rapat pada tanggal 16 Agustus pagi. Undangan kilat telah disampaikan kepada
para anggota yang pada waktu itu telah berkumpul di Jakarta. Rapat akan
diadakan di Hotel Des Indes (duta
Indonesia)
Rapat yang semula dierencanakan
merupakan rapat PPKI itu kini diikuti pula oleh anggota-anggota Cuo Sangi In
dan pemimpin-pemimpin pemuda. Rapat berlangsupukul 6 pagi, tanggal 17 Agustus
1945. Hasilnya adalah rumusan teks proklamasi yang akan diumumkan pada hari itu
juga pukul 10 pagi, teks tersebut adalah teks yang resmi dan ditandatangani
oleh dwitunggal Sukarno-Hatta. Dan Sukarnolah nanti pada pukul 10 pagi harus
membacakan teks tersebut, dan bertempat dirumahnya, jalan Pegangsaan Timur No
56. Setelah itu dikibarkan pula Sang Saka dengan diiringi lagu kebangsaan
Indonesia Raya. Karena Jepang menyiarkan proklamasi itu , maka penyiarannya
dilakukan secara gelap baik lewat radio maupun dengan pamflet- pamflet dan
edaran-edaran maupun dari mulut ke mulut.
G.
Tindak Lanjut
dari Proklamasi
Sehari setelah
Indoesia memproklamasikan kemerdekaannya perlulah dibentuk lembaga pemerintahan
sebagai layaknya suatu negara merdeka. Tanggal 18
Agustus siang telah berhasil membentuk UUD yang terdiri atas Pembukaan, Batang
Tubuh yang terdiri atas 37 pasal, 4 pasal Aturan Peralihan dan 2 pasal Aturan
Tambahan disertai Penjelasan yang dibuat oleh BPUPKI.
Pada hari itu
juga diadakan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden menurut UUD yang baru saja
ditetapkan. Atas usul Oto Iskandardinata, secara aklamasi PPKI menyetujui
pengangkatan Sukarno-Hastta, masing-masing menjadi Presiden dan Wakil Presiden
pertama Republik Indonesia.
Pada tanggal 19 PPKI mengadakan
rapat lagi. Kali ini PPKI memutuskan pembagian wilayah Indonesia menjadi 8
Propinsi diseluruh bekas koloni India-Belanda. Jadi wilayah Indonesia hanya
meliputi India-Belanda, tidak seperti yang diputuskan oleh BPUPKI yang
menghendaki Malaka, Kalimantan Utara, Timor Portugis, serta Irian seluruhnya.
Perubahan wilayah itu didasarkan atas pertimbangan demi tidak menimbulkan
kesulitan untuk memperoleh pengakuan (dokumen) internasional dan menghindarkan
tuduhan, Indonesia lepas dari penjajahan kini menjalankan penjajahan.
Sukarno dan pemimpin-pemimpin Indonesia pada waktu itu
masih belum melihat urgensi pembentukan tentara. Karena itu pada tanggal 22
Agustus diputuskan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang semula bertugas
sebagai kepolisian saja.
Ketaatan rakyat terhadap Sukarno,
membuat pihak Jepang sadar akan kedudukan Sukarno sebagai pemimpin rakyat.
Jelasnya pihak Jepang menyadari bahwa pergerakan kemerdekaan benar-benar
didukung rakyat. Rakyat menaati perintah pimpinannya. Untuk tidak menimbulkan
kesulitan di pihak Jepang sendiri, maka harus berhati-hati sikapnya terhadap
pihak Indonesia.
H. Perjuangan Proklamasi di Luar Jawa
Perjuangan Proklamasi di Luar Jawa,
betapapun kerasnya sikap Jepang terhadap daerah luar Jawa, namun karena
perkembangan situasi tidak menguntungkan Jepang, tentara XXV (dibawah Jendral
Tanabe sebagai Panglima dan Jendral Shimura sebagai Kepala Staf) terpaksa juga
mengadakan pembaharuan seperti di Jawa. Hanya Angkatan Laut yang masih bersifat
keras.
Namun
bagaimanapun juga Sumatra harus mengikuti perkembangan di Jawa. Pada bulan
Maret 1945 dibentuklah Cuo Sangi In di Sumatra, hampir dua tahun setelah Jawa. Kemudian
menyusul pembentukian BPUPKI Sumatra pada bulan Juli 1945 dengan ketuanya Moh
Syafei dan sekretarisnya Adinegoro keempat orang itu merupakan empat
serangkai dari Sumatera.
Sementara itu politik Jepang
memisahkan Sumatra dari Jawa ditinggalkan, tiga orang utusan Sumatra, Abdul
Abbas, Moh Amir dan T. Moh Hassan, diijinkan menjadi anggota PPKI di Jakarta
yang berangkat ke Jawa lewat Singapura dalam satu bomber bersama Sukarno dan
Hatta yang pulang dari Saigon pada tanggal 14 Agustus 1945. Mereka menyaksikan
Proklamasi 17 Agustus 1945.
Ketiga utusan
Sumatra pada PPKI mengikuti sidang-sidang Panitia itu sampai 22 Agustus. Dalam
sidang 19 Agustus T. Hassan telah
diangkat menjadi Gubernur RI untuk Sumatra dan menentukan Medan menjadi ibukota
Sumatera.
Pihak Jepang pad aumumnya bersikap
netral (tidak membantu, tidang merintangi) terhadap pihak republik. Yang
penting bagi mereka law and order terpelihara.
Karena itu tidak mustahil bahwa dalam waktu singkat, pemerintahan telah
ditangan penjabat-penjabat Indonesia jauh sebelum sekutu dan NICA datang.
Dengan demikian
maka persoalan yang dihadapi Sumatrapun kemudian sama dengan Jawa yaitu
bagaimana pihak Republik harus membuat perhitungan dengan pihak Sekutu,
khususnya Belanda, yang ingin memulihkan kekuasaannya di Indonesia seperti
sebelum perang.
Sumber Pustaka
Moedjanto. 1988. Indonesia Abad Ke-20 1
Dari Kebangkitan Nasional sampai Linggajati. Yogyakarta; Kanisius
Tidak ada komentar:
Posting Komentar