Jumat, 09 Mei 2014

Gerakan Turki Muda

Gerakan Turki Muda
Setelah dibubarkannya parlemen dan hancurnya gerakan Usmani Muda, Sultan Abdul Hamid terus memerintah dengan kekuasaan yang lebih absolut. Kebebasan berbicara dan menulis tidak ada. Dalam menentang lawan ia memakai kekerasan, sehingga ada pengarang-pengarang yang memberi sifat tirani kepadanya. Yang menyokong Sultan dalam pemerintahan absolut dan kekerasan hanya beberapa pembesar Kerajaan Usmani.
Rasa tidak senang timbul, bukan hanya di kalangan kaum intelegensia yang dipengaruhi pemikiran liberal, tetapi juga digolongan pegawai sipil dan kemudian juga dikalangan kaum militer. Bahkan di perguruan-perguruan tinggi rasa tidak senang itu juga kelihatan meluap keluar. Dalam kelas, guru berceritra tentang pemuka-pemuka Usmani Muda dan ide-ide mereka. Murid merasa rindu ke zaman Usmani Muda yang baru lalu dan dengan penuh perhatian membaca tulisan-tulisan Namik Kemal. Nyanyi-nyanyian yang memuji Sultan mereka robah kata-katanya menjadi kecaman. Guru-guru yang membawa ide-ide liberal, dipindahkan atau dipecat.
Dalam suasana demikian timbullah gerakan-gerakan oposisi terhadap pemerintahan absolut Sultan Abdul Hamid, sebagaimana halnya di masa lampau dengan Sultan Abdul Aziz. Oposisi dikalangan Perguruan Tinggi, mengambil bentuk perkumpulan-perkumpulan rahasia. Dikalangan intelegensia pemimpin-pemimpinnya lari keluar negeri dan dari sana melanjutkan opposisi mereka. Gerakan dikalangan militer menjelma dalam bentuk komite-komite rahasia. Opposisi yang berbagai kelompok-kelompok inilah yang kemudian dikenal dengan nama Turki Muda
Ide perjuangan Turki Muda, antara lain dimajukan oleh tiga pemimpin, Ahmed Riza (1859 – 1931), Mehmed Murad (1853 – 1912) dan Pangeran Sabahuddin (1877 -1948).
Ahmed Riza adalah anak seorang bekas anggota Parlemen Pertama bernama Injiliz Ali. Di masa mudanya Ahmed Riza pernah berkunjung ke desa-desa di Turki dan kemelaratan yang diderita kaum petani menusuk hatinya. Iapun bertekad untuk melanjutkan studi di Sekolah Pertanian untuk kelak dapat bekerja dan berusaha merobah nasib kaum petani yang malang itu. Studi mengenai pertanian di lanjutkan di Paris.
Sekembalinya dari Perancis ia bekerja di Kementrian Pertanian, tetapi ternyata baginya bahwa hubungan Kementrian ini dengan hidup dan kemelaratan kaum petani sedikit sekali. Kementrian itu lebih banyak disibukkan dengan hal-hal yang bersangkutan dengan birokrasi.
Ia pindah ke Kementrian Pendidikan, karena dengan pendidikanlah, begitu pendapatnya, maka rakyat dapat dibuka dan dengan demikian perobahan nasib mereka dapat diwujudkan. Juga pengalamannya di kementrian ini sama. Orang sibuk dengan persoalan birokrasi dan bukan dengan soal-soal pendidikan.
Karena sensor ketat, ia tidak dapat mengeluarkan pendapat dan fikirannya dalam surat kabar atau buku, maka ia lihat lebih baik pergi ke Paris kembali. Disana ia berjumpa dan bekerjasama dengan pemimpin-pemimpin yang telah terlebih dahulu menjauhkan diri dengan pemerintah absolut Sultan Abdul Hamid. Di Paris ia mengeluarkan surat kabar Mesveret  yang diselundupkan ke Istambul untuk dapat dibaca oleh orang-orang Turki dtanah air.
Selama di Perancis Ahmed Riza banyak membaca buku-buku pemikir-pemikir Perancis, dan ia amat tertarik kepada falsafat positivisme Auguste Comte (1798 – 1857). Oleh karena itu ia berpendapat jalan yang harus ditempuh untuk menyelamatkan Kerajaan Usmani dari keruntuhan ialah pendidikan dan ilmu pengetahuan positif dan bukan teologi atau metafisika.
Adanya dan terlaksananya program pendidikan yang baik berhajat pada pemerintahan konstitusional. Pemerintahan konstitusional tidak bertentangan dengan Islam, karena dalam Islam terdapat ajaran musyawarat dan musyawarat adalah dasar pemerintahan konstitusional. Sistem musyawarat dijalankan bukan hanya oleh Nabi Muhammad SAW, tetapi juga oleh Abu Bakar, Umar, dan Khalifah-khalifah lain.
Dalam memorandum yang ia terbitkan di Eropa, Ahmed Riza mengajak Sultan Abdul Hamid supaya merubah sikap serta politik,dan menghidupkan kembali  pemerintahan konstitusional, agar pecahnya revolusi di Kerajan Usmani dapat dielakkan.
Pangeran Sabahuddin dari pihak bapak ialah salah seorang cucu dari Sultan Mahmud II dan dari pihak ibu ialah keponakan Sultan Abdul Hamid. Ibunya bersaudara dengan Sultan. Sabahuddin ikut lari dengan ibu-bapaknya menjauhkan diri dari kekuasan Abdul Hamid. Mereka pergi ke Eropa.
Di Paris Sabahuddin dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran dalam bidang sosiologi dan problema yang dihadapi oleh Kerajaan Usmani ia tinjau dari segi sosiologi. Yang diperlukan ialah perubahan sosial, dan bukan pergantian Sultan. Masyarakat Turki sebagai masyarakat Timur lainnya memiliki corak kolektif dan masyarakat kolektif tidak mudah berubah dalam menuju kemajuan. Dalam masyarakat kolektif orang tidak dapat percaya kepada diri sendiri, dan oleh karena itu tidak dapat berdiri sendiri, tetapi senantiasa bergantung kepada kelompoknya, baik kelompok itu berbentuk keluarga maupun suku bangsa, pemerintah, dan sebagainya. Masyarakat yang dapat maju ialah masyarakat yang anggotanya tidak banyak bergantung kepada orang lain, tetapi sanggup berdiri sendiri dan berusaha sendiri untuk merubah keadaannya.
Selama masyarakat Turki masih bersifat kolektif, sultan tetap akan mempunyai kekuasaan absolut. Sebagai jalan sementara dalam mengatasi kekuasaan absolut itu, yaitu sebelum corak masyarakat Turki berubah, ia menganjurkan supaya diadakan desentralisasi dalam bidang pemerintahan. Daerah-daerah diberi otonomi dan sistem otonomi itu sebaiknya dilaksanakan sampai ke tingkat desa.
Jalan yang ampuh untuk merubah sifat masyarakat dari kolektif menjadi individual adalah pendidikan. Rakyat Turki harus dididik dan dilatih dapat berdiri sendiri untuk merubah nasibnya. Salah satu jalan lain lagi ialah merubah sisitem hak milik dan kolektif menjadi sistem hak milik pribadi. Dengan demikian anggota masyarakat tidak banyak lagi bergantung kepada kelompoknya.
Pangeran Sabahuddin juga menerbitkan majalahnya yang diberinya nama Terekki (kemajuan).
Pemikir ketiga Mehmed Murad, berasal dari Kaukasus dan lari ke Istambul pada tahun 1873 setelah gagalnya pemberontakan Syaikh Syamil di daerah itu. Ia belajar di Russia dan disanalah ia berjumpa dengan ide-ide Barat, tetapi ajaran-ajarn Islam masih mempunyai pengaruh-pengaruh besar terhadap perkembangan pemikirannya. Ia mencoba memberi nasihat kepada Sultan agar diadakan perubahan-perubahan dalam sistem pemerintahan, tetapi ditolak dan akhirnya ia juga terpaksa lari ke Eropa. Sebagai Ahmed Riza dan Sabahuddin ia juga menerbitkan majalah  Mizan  (timbangan).
Ia berpendapat bahwa bukanlah islam yang menjadi sebab mundurnya Kerajaan Usmani, dan bukan pula rakyatnya, sebab kemunduran terletak pada Sultan yang memerintah secara absolut. Oleh karena itu kekuasaan sultan harus dibatasi. Sebagai pemimpin lain ia berpendapat bahwa musyawarah dalam islam sama dengan pemerintahan konstitusional Barat. Karena Sultan tidak setuju dengan Konstitusi, ia mengusulkan supaya didirikan suatu Badan Pengawas yang tugasnya ialah menjaga supaya undang-undang tidak dilanggar Pemerintah. Disamping itu perlu pula diadakan Dewan Syariat Agung yang anggotanya tersusun dari wakil-wakil negara Islam di Afrika dan Asia. Ketuanya adalah Syaikh Al-Islam Kerajaan Usmani. Sama halnya dengan Badan Pengawas, Dewan Syariat Agung bertugas untuk menjaga supaya sistem musyawarat dalam pemerinahan tidak dilanggar oleh Sultan.
Mehmed Murad mempunyai paham pan-Islam. Ia melihat bahwa salah satu sebab bagi kelemahan Kerajaan Usmani adalah renggangnya hubungan Istambul dengan daerah-daerah lain, terutama yang berada di bawah kekuasaan Turki. Ia ingin menghidupkan kembali rasa saling percaya antara pemerintah Pusat dan Daerah.
Sungguhpun ada perbedaan pandangan dan politik antara ketiga pemuka di atas beserta pengikut masing-masing, mereka sepakat untuk menggulingkan Sultan Abdul Hamid. Keputusan ini diambil setelah diadakan dua kali konferensi di Eropa, yang terakhir pada tahu 1907 di Paris.
Dalam pada itu di tanah air sendiri gerakan golongan militer dengan komite-komite atau sel-sel rahasia mereka, mulai meningkat. Di Damsyik terdapat Komite Tanah Air dan Kemerdekaan yang mempunyai cabang-cabang antara lain di Yaffa dan Yerussalem. Mustafa Kemal, yang kemudian dikenal dengan panggilan Atturk, adalah salah satu pemimpinnya. Komite atau sel serupa berdiri di tempat-tempat lain seperti Salonika, Masedonia dan Edirne. Tetapi yang termasyhur diantara semua itu adalah Perkumpulan Persatuan dan Kemajuan (Ittihad ve Terekki).
Di tahun 1908 Batalyon III yang berada di Masedonia dan Batalyon II di Edirne mulai berontak. Tentara di Salonika, Monastiri dan Anatolia turut pula berontak. Diantara perwira-perwira tinggi yang turut memegang pimpinan pemberontakan terdapat Enver Bey dan Ahmed Niyazi. Dengan suasana demikian Perkumpulan Persatuan dan Kemajuan muncul kedepan dengan terang-terangan, dan menuntut dihidupkan kembali Konstitusi 1876. Dalam pada itu diambil keputusan akan menggulingkan Sultan Hamid dan 1000 tentara akan menyerbu Istambul. Terhadap ancaman yang demikian Sultan Abdul Hamid mengambil keputusan menghidupkan kembali konstitusi 1876 untuk menyelamatkan kedudukannya sebagai Sultan.
Pemilihan umum diadakan dan terbentuklah Parlemen baru. Sebagai ketua dipilih Ahmed Riza dari Perkumpulan Persatuan dan Kemajuan. Turki Muda, dengan berhasilnya pemberontakan mereka terhadap kekuasaan absolut Sultan Abdul Hamid, turut memegang kekuasaan.
Di dalam Parlemen terdapat dua fraksi, fraksi liberal yang menghendaki desentralisasi dan pemerintahan otonomi bagi daerah-daerah. Dengan politik ini mereka bermaksud untuk dapat mempertahankan utuhnya kesatuan Kerajaan Usmani. Fraksi yang satu lagi ingin mempertahankan sentralisasi dengan unsur Turki sebagai pemegang kekuasaan pusat . fraksi ini dipengaruhi oleh ide nasionalisme.
Pemerintahan Persatuan dan Kemajuan dari semenjak mulai memegang kekuasaan telah dihadapkan dengan problema-problema. Kekacauan yang ditimbulkan Pemberontakan 1908 di Istambul, dipakai oleh Austria sebagai kesempatan untuk menggabungkan Bosnia dan Herzegovina ke dalam lingkungan daerah kekuasaannya. Bulgaria mengumumkan kemerdekaannya. Pulau Kreta menggabungkan diri dengan Yunani. Negara-negara Balkan mulai mengadakan serangan-serangan terhadap daerah pusat Kerajaan Usmani.
Di daerah pusat sendiri, rakyat masih banyak yang setia kepada Sultan, sebagai Khalifah, dan Sultan Abdul Hamid juga tidak tinggal diam. Dari golongan ulama dan tarekat Bektasyi timbul pula kritik terhadap politik pembaharuan Turki Muda yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Barat. Mereka membentuk suatu organisasi yang bernama Persatuan Islam di bawah pimpinan Vahdeti Murad Bey. Tujuannya adalah membela syaiat yang menurut mereka telah mulai diabaikan dan tak diindahkan oleh golongan Turki Muda. Di daerah-daerah bukan Turki mulai pula muncul perasaan nasionalisme.
Kedudukan pemerintahan Turki Muda memang tidak kuat dan kesempatan ini dipakai oleh Sultan Abdul Hamid untuk mengembalikan kekuasaannya. Tetapi Enver Pasya dengan Batalyon III masuk Istambul dan merampas kekuasaan. Sultan Abdul Hamid dijatuhkan pada tahun 1909 dan diganti oleh saudaranya Sultan Mehmed V.
Ditahun 1912 diadakan pemilihan baru dan kali ini Perkumpulan Persatuan dan Kemajuan memperoleh kemenangan besar. Parlemen mereka kuasai dan kantor pusat organisasipun yang selama ini berada di Salonika mereka pindahkan ke Istambul.
Setahun kemudian golongan militer dari Perkumpulan Persatuan dan Kemajuan menggantikan golongan politisi dalam menguasai pemerintahan. Kekuasaan terletak di tangan tiga serangkai Enver Pasya, Talat Pasya dan Jemal Pasya.
Enver Pasya adalah tamatan dari perguruan tinggi militer yang ketat dan tidak bisa menerima kritik. Partai-partai opposisi mereka bubarkan dan para pemimpinnya mereka buang ke luar negeri. Dalam perang dunia I, mereka bawa Kerajaan Usmani menjadi sekutu Jerman. Kekuasaan mereka hancur dengan kalahnya pihak Jerman dalam peperangan itu. Perkumpulan Persatuan dan Kemajuan membubarkan diri dan pemimpin-pemimpinnya lari ke luar negeri.
Dalam lapangan pembaharuan, Perkumpulan Persatuan dan Kemajuan membawa perubahan-perubahan dalam bidang administrasi yang kemudian menjadi kerangka bagi pemerintahan lokal dan daerah dari Turki zaman sekarang. Administrasi kota Istambul juga mengalami pembaharuan. Transportasi umum diadakan, demikian pula brigade kebakaran. Organisasi kekuatan polisi disesuaikan dengan kebutuhan zaman modern.
Dalam bidang ekonomi langkah-langkah yang mengarah kepada ekonomi nasional diambil atas inisiatif pemimpin-pemimpin Perkumpulan Persatuan dan Kemajuan. Perdagangan yang umumnya berada di tangan orang asing mulai berpindah ke tangan orang-orang Turki.
Pendidikan mendapat perhatian khusus. Sekolah-sekolah dasar dan menengah baru didirikan. Untuk mengatasi kebutuhan pada tenaga guru dibuka pula sekolah-sekolah guru. Uni ersitas Istambul diperbaharui organisasinya. Pintu sekolah-sekolah sampai ke Universitas dibuka bagi kaum wanita dan muncullah dokter-dokter, hakim-hakim, dan sebagainya dikalangan wanita Turki.
Pakaianpun mengalami perubahan. Bukan kaum pria saja bahkan kaum wanita Turki juga mulai memakai pakaian Eropa. Waktu dirubah dari waktu yang biasa dipakai di Arab menjadi 24 jam sehari, sebagai keadaannya di Eropa.
Mahkamah Syariat diletakkan di bawah Kementrian Kehakiman dan undang-undang perkawinan baru yang lebih menguntungkan bagi kaum wanita diadakan. Dalam undang-undang baru itu, mereka umpamanya, diberi hak cerai.
Dalam bidang publikasi kemajuan cepat diperoleh. Surat-surat kabar dicetak sampai mencapai 60 ribu kopi, karena jumlah pembaca bertambah besar. Majalah-majalah baru timbul dalam bidang sastra, politik dan sebagainya. Ide-ide yang banyak dimuat dalam majalah-majalah itu bersumber dari Perancis, antara lain filsafat positivisme Auguste Comte. Ilmu-ilmu kemasyarakatan mulai mendapat perhatian dan nasionalisme Turki juga mulai dibicarakan.

Dengan bertambah banyaknya surat kabar dan majalah yang diterbitkan dan dibaca masyarakat Turki, ide-ide Barat makin bertambah dikenal oleh masyarakat dan makin bertambah besar pengaruhnya kepada golongan terpelajar Turki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar